Dinihari Itu Sesak Menyergap





Pipiet Senja 

22 Pebruari 2021

Memasuki hari ke-5 sesungguhnya aku masih tanpa keluhan.

Aku masih bisa makan dengan enak.

Boleh jalan ke kamar mandi.

Memandangi suasana di bawah melalui balkon.

Menonton mereka yang senam ria di pelataran.

Menulis catatan harian di ponsel, diposting di platform KBMAPP Pipiet Senja.

Kadang kuposting juga di jaringan medsosku.

Namun, pagi-pagi, pada hari ke-5 itu aku mendadak merasa mual. Jatah makan dengan menu yang itu-itu saja. Nasi merah kali ini ditim alias becek tak karuan. Terasa dingin. Lauknya sepotong tempe rebus yang terasa agak kecut. Telor orak-arik juga dingin anyep, tanpa rasa.

Aku terus memaksakan semua masuk mulutku. Hanya sesendok dan tak sanggup melanjutkannya.

Aku tanya perawat, “Tumben. Mengapa menunya beda banget? Sudah dingin bahkan tetasa aromanya tak enak?”

Tak tega kalau menyebut agak basi. Meskipun faktanya demikian.

“Di dapur banjir. Suasananya pabaliut,” jawabnya sambil lalu.

Alhasil pagi juga siang itu, aku nyaris tak menyentuh makanan yang tak jauh beda. Ada sepotong roti sisa kemarin. Juga sepotong pepaya, kumakan semua.

Nah, sorenya dicek gula. Hasilnya 78!

Badanku gemetar, denyut jantungku senut-senut. Perawat dengan tagname Christin Tobing, sampai berlari ke sana ke mari mencarikan gula untukku.

Pertolongan pertama orang DM yang anjlok, memang hanya teh manis. Christin sangat mencemaskanku. Dia menenangkanku sambil membujuk agar mau minum.

“Minumnya habiskanlah ya ibuku yang baik….” Dia membujuk  sambil membaluri kakiku dengan kayuputih. Aku menambahkan madu dan 3 tetes propolis ke teh manis.

Oya, maafkan aku tidak bisa konsumsi sari buah yang rasanya asam. Lambungku menolak. Tapi anak mantu menyukainya. Dua cucu sangat suka minum madu. Terima kasih kepada sahabat yang sudah berkenan mengirimkannya.

Selama proses pemulihan itu, tak henti mulutku komat-kamit berzikir dan berdoa.

“Ya Allah, Gustiiii… Mohon, jangan ambil nyawa hamba-Mu yang lemah ini sekarang, mohooon….”

Tak terasa sambil cucuran airmata; ”Duhai Malakal Maut, lewat dulu sana, ya pliiis. Nanti saja, ya, nanti…. Kasihan anakku masih berat perjuangannya….” Bagai orang gila saja, kuajak curcolan itu yang bergelar Malakal Maut. Duhai!

Terbayang wajah putriku, Butet dan anaknya Qania. Tinggal berdua di rumah kontrakan mungil. Selama empat tahun ini, entah bagaimana mereka jika tak ada si Manini. Bukannya somse, ya, ini cerita fakta.

Butet sambil banting-tulang cari nafkah, berjuang meraih gelar Master Kenotariatan. Kepingin jadi Notaris.

Perjuangannya sungguh luar biasa. Tak kenal lelah, tak kenal menyerah. Subuh sudah pergi baru pulang larut malam. 

Acapkali aku menangis pilu menyaksi perjuangan hidupnya. Sepanjang tak ada emaknya itulah, Qania hanya berdua dengan Manini.

“Sungguh, serius banget ya, Malakal Maut…. Dengarkanlah doaku ini, pliiiis….” Rengekku bagai bocah minta mainan.

“Tenang ya, Bu,” samar-samar suara suster Christin Tobing, menenangkanku.

Agaknya kelakuanku yang meracau, maksudku berdoa panjang, mengajukan permohonan tunda kematian, eeeeh….Tak urung terasa dan tampak jua di mata boru Tobing nan baik hati dan pedulian ini. Tuh kan, tak semua Batbat julid macam si mantan, ops!

Dua jam kemudian dicek kembali gula darah: 120. Ia segera melaporkan kepada dokter. “Stop dulu insulinnya, ya Bu,” kata dokter Adi yang ikut memantau kondisiku.

Pelan-pelan kurasakan sudah tenang. Aku ke kamar mandi mengambil wudhu. Seketika tubuhku oleng. Waduh, nyaris saja nyungsep kalau tak cepat pegangan gagang pintu.

Kembali ke tempat tidur sambil riuh berzikir. Setapak demi setapak tertatih-tatih menuju tempat tidurku. Rasanya lama sekali sampainya. Kubawa sholat dan mengaji sambil berbaringan. Akhirnya tertidur.

Pergantian tugas jaga. Tak kunampak lagi sosok Christin Tobing dan dokter Adi.

Aku terbangun dengan perasaan aneh. Sesak dadaku dan rasa pegal luar biasa di bagian dada, hingga senut-senut ke bagian punggung dan bawah.

Tak ada bel untuk mengabarkan perawat. Aku berusaha duduk tenang, memasang alat saturasi dan tensi sendiri.

Saturasi 92, tidak mengapalah. Kucari madu dan meminumnya 2 sendok. Masih sesak. Tiba-tiba perutku terasa melilit. Kepingin BAB.

Pelan-pelan dan sangat hati-hati aku melangkah ke kamar mandi. Rasanya dibutuhkan perjuangan keras juga untuk sampai di kamar mandi. Tak tahan sebagian sudah keluar. Kubersihkan diriku dan membuang CD, tak mungkin bisa mencucinya.

Saat kembali ke atas ranjang, sedapat mungkin aku tidak kehilangan zikrullah.

Ya Rahman Ya Rohiiiim….Lailaha ila anta subhanaka inni quntum minal dzolimin…

Mohon doakan sahabat Manini. Kalaupun harus berpulang. Semoga masih bisa berjuang dan dalam husnul khotimah. Maafkan lahir dan batin.

Sejak itu tim dokter semakin ketat memantauku. Tiap sebentar mereka melakukan cek tensi, saturasi dan detak jantung.

Mungkin efek obat-obatan antibiotik, antivirus, aku mulai terpengaruh. Kadang seperti melayang-layang tak karuan.

“Berapa HB saya, dokter?” tanyaku suatu saat, lirih.

“HB Ibu 7….”

“Oh, seharusnya tidak macam begini. Tentu lebih rendah,” gumamku.

“Terakhir ditransfusi kapan, Bu?”

“Dua bulan yang silam.”

“Oya, jadi sudah agendanya transfusi kembali.”

“Apa bisa ditransfusi di sini, dokter?” pintaku.

“Tidak bisa. Di sini tidak ada PMI.”

“Lantas apa solusinya? Apa boleh pulang untuk segera ditransfusi di rumah sakit langgananku?”

“Baik, kami sampaikan kepada dokter konsulen.”

Kenyataannya aku baru diperbolehkan keluar dari HCU setelah 10 hari. Dua hari bergabung dengan keluarga anakku di ruang rawat biasa. Dua minggu totalnya dikarantina di Wisma Atlet, aku memaksa pulang bersama keluargaku.

Dua hari di rumah, karena semakin lemas dan jantung serasa tak nyaman, barulah aku mencari bantuan sahabatku, seorang dokter. Takaran darahku anjlok di tataran 5.

Bersambung

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama