Bulan Juni Bersama Cucuku: Qania



Pipiet Senja

Subuh terbangun belum kutengok itu di atas tempat tidurku. Begitu habis ambil wudhu kulihat seonggok kotoran si Pow, kucingnya Qania.

Karuan aku kesal bangeeeet dah.

Semalam aku temani Qania di kamarnya. Karena mamanya ada tugas dari kantornya.

Lupa kamarku tidak ditutup.

“Tenang Manini, tenang. Sholat aja dulu, yuuuk!” bujuk Qania menenangkan, kuatir jantungku kumat agaknya.

Sholat coba khusyuk, tetap saja itu seonggok kotoran si Pow di atas tempat tidurku terbayang. Ya Allah, ampunilah Gustiii!

Selesai sudah kebersihan tempat tidurku. Sprei langsung dicuci, tidak dibawa ke laundry lagi bokek.

Kepingin sarapan ceritanya. Di kulkas kosong melompong selain es batu.

“Qania, mau beli telor sama mie. Minta uangnya dong,” pintaku.

Kutahu Qania punya simpanan pribadi dan lumayan banyak. Bahkan beli Iphone bekas dari mamanya seharga 1 juta, hihi…

Kemarin dia beli makanan sendiri dan cemilan saat antar aku ke rumah sakit.

“Gak ada, ah, Manini. Nanti habis duit Qania,” ujarnya mengagetkanku.

Selama ini kan dia murah hati seperti Zidan.

“Lah, terus kita gak sarapan nih?”

“Qania baru sarapan sisa kemarin,” jawabnya tanpa berpaling dari Tabnya.

Ituuuu….Tab gw yang belikan, tahuu!

Aku ngeloyor ke warung dengan sisa cash di dompet bututku.

Nah, ceritanya selesai urusan ngisi perut.

Qania agaknya baru ingat besok ambil raport. Ada surat edaran isinya antara lain: harus lunas Spp Juni, bayar daftar ulang dan uang komite plus paket buku.

TotalnyĆ  juta sekianlah!

“Manini kata Mama belum gajian, gak ada duitnya. Gimana nih, Manini? Kalau gak bayar besok, nanti Qania gak dibagi raport dong,” keluhnya setengah menangis.

“Coba Qania minta ke si Ayah,” sahutku giliran berlagak cuek di depan laptop.

Padahal sudah kusampaikan juga kepada bapaknya tentang hal ini seminggu yal. Tak ada respon!

“Sudah nih baca, Manini,” ujarnya sambil memperlihatkan chatt ke si bapak, konon sudah punya istri dan dua anak di entah di mana.

Sekilas kubaca okelah bahasanya juur dan polos.

Qania mendadak bertanya;”Kalau gak dijawab gimana, Manini?”

“Ngngng….gak tahu deh.”

Tiba-tiba Qania bilang:”Ya sudah, bac…. k aja kaleeee bapak begitu!”

Gubraaaaak dah!

Ada sambungannya.

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama