Antara Ada dan Tiada





Pipiet Senja

Anno, 2009

Entah bagaimana asal-muasalnya, tiba-tiba saja aku sudah berada di sebuah lembah. Serasa tak asing lagi bagiku tempat ini, sejauh mata memandang hanya hijau dan hijau yang tampak. Mungkinkah ini di lembah Tampomas, kampung kelahiranku, kabupaten Sumedang?

Aku pernah memakainya sebagai penglataran novelku, Cinta Dalam Sujudku.

“Halah, kapan pernah kau ke sana? Di sana kau hanya menumpang lahir, sekolah sampai kelas 4 SD.”

“Suara siapakah itu yang berani menyangkal pikiranku?”

Tiada sahutan.

Hening, senyap dan suwung sekali!

Di mana anak-anakku, Haekal, Butet dan menantuku.

Dan dua cucuku Zezi, demikian kami suka menyingkatnya.

“Zeeeiiiin! Ziaaaa!” Aku ingin berteriak, tetapi tak bisa terucapkan.

Serasa ada yang mengganjal di tenggorokanku.

Tiba-tiba ada yang memanggilku: “Teteeeeh! Teteeeh!”

Itu suara ibuku! Mengapa hanya ada suara Emak?

Aku mencoba menajamkan daya pendengaranku.

Sekali lagi suara itu kudengar: “Teteeeh! Ieu Emak di dieu, tulungaaan!”

Ibuku bilang ada di sekitarku dan minta tolong aku?

Kutajamkan daya penglihatanku. Awaaaas!

Sosok ibu yang telah melahirkanku ke dunia 53 tahun yang lalu itu, seketika telah berdiri di hadapanku.

“Tolong Emak, Teteh, tolooong!” katanya sambil menarik-narik tanganku.

Aku berusaha keras mengeluarkan kata-kata, tetapi hanya desisan tak bermakna yang keluar dari mulutku: “Sssshhhh, ssshhhhh…..”

Emak memandangiku dengan tatapannya yang memelas.

“Kenapa kamu, Teteh?”

Baru kusadari ibuku hanya mengenakan daster batik lusuh. Ops, bukankah itu daster yang pernah dititipkannya kepadaku? Hanya dalih saja agar besok-besok ada alasan untuk datang ke rumah kami di Depok.

Padahal, meski tak ada alasan apapun, kami selalu dengan senang hati menyambut kedatangannya. Masalah muncul dalam tahun-tahun terakhir, Emak tak pernah kerasan tinggal di Depok. Paling hanya dua-tiga hari, itupun harus aku bujuk-rayu, membawanya jalan-jalan dan  belanja ke Mall.

“Ada apa dengan suaramu?” Emak mengguncang tanganku.

Melihat sosoknya yang sepuh, ringkih dan memprihatinkan, kekuatanku seketika tumbuh, sehingga suaraku pun mendadak pula muncul kembali.

“Mak, ada apa?” balik aku bertanya dengan suara menggeletar.

“Emak minta tolong, ini lagi dikejar-kejar rentenir!” sahutnya.

Nah, jelas sekali Mak Uyut sedang ketakutan, Zezi!

“Rentenir? Memangnya ada urusan apalagi dengan rentenir, Mak?”

“Emak ditipu….”

“Bagaimana? Bukannya aku sudah melunasi utang Emak?”

“Ini lain lagi, pokoknya Emak ditipu. Ada orang pakai nama Emak, tanda tangan Emak, terus dia pinjam duit ke rentenir. Katanya sudah bertahun-ahun, sekarang utangnya lipat-lipat jadi ratusan juta. Mak mau dijebloskan ke penjara!” ceracaunya panik.

“Memangnya ke mana anak-anak Emak yang lain? Ed, Ry, anak Emak laki-laki, mereka seharusnya yang bertanggung jawab. Kan ada dalam Al-Quran juga, anak lelaki itu seumur hidupnya harus mengurus ibunya….”

Tiba-tiba ada kemarahan yang meledak-ledak menyergap diriku. Sejak remaja, begitu bisa mencari nafkah dengan menulis, aku sudah membayari utang-utang ibuku ke rentenir. Hobinya berutang, sungguh luar biasa, dan tak tersembuhkan hingga detik ini!

Ada saja alasannya untuk berutang itu. Untuk biaya walimahan si bungsu, untuk bantu adik-adik, untuk menebus obat, bayar tutidakan listrik, telepon, dan macam-macam lagi yang kadang tak masuk akal.

“Aku kan selalu transfer setiap bulannya, Mak. Satu juta itu bukan duit yang kecil, Mak. Itu separo gaji tetapku, Mak,” protesku jengkel sekali, hingga dadaku serasa sesak.

Emak tidak menyahut, sepasang matanya yang tua mengerdip kelam. Tangannya tiba-tiba menuding ke arah belakangku. Aku menengok, tampaklah  rombongan lelaki bertubuh kekar-kekar dan bertato. Itu para debcolektor!

Kuulurkan tangan ke arah ibuku. “Lariiiii!”

Entah dari mana kekuatan itu bisa kami miliki, kami berdua berlari menuruni lembah. Kami terus berlari, berlari dan berlari!

Sampai dadaku serasa sesak sekali.

“Capek, Mak, capeeeek!” Aku terengah-engah.

Hebat betul, perkasa nian ibuku ini, pujiku dalam hati. Padahal, bukankah ia punya sakit jantung?

“Sebentar lagi kita sampai di kantor polisi,” kata emakku, menarik tangannya dari cekalanku.

Sungguh mengherankan!

Bagaimana mungkin dari lembah dengan hijau royo-royo, tiba-tiba kami sudah sampai di kantor polisi? Tempatnya orang mengadukan ketakadilan, kejahiman, berharap beroleh keadilan dan kebenaran. Bukankah? Aku hanya terperangah, bingung bukan main!

Namun, kulihat emakku sangat cekatan, menyeret tanganku, memasuki ruang jaga. Ia begitu lancar dan fasih sekali mengadukan ikhwal kami kepada seorang petugas berseragam.

“Teteh, dengar tidak? Kata Bapak ini, laporan kita diterima, tapi mau diproses tidak?”

“Aku tidak tahu….” Sungguh, aku masih kebingungan.

“Berapa?” tanya ibuku.

“Seratus juta….”

“Apaaaa?!” Seruku kaget. “Itu…, duit, ya Mak?” tanyaku serasa bodoh sekali.

“Lah, iyalah…, duit, duiiiit!”

Entah dari mana asalnya, tiba-tiba saja suara itu saling bersahutan bersamaan dengan bermunculan sosok-sosok asing. Semuanya berseragam.

Mereka menuntut duit; 100 juta!

Ajaib, masih sempat terlintas di benakku satu kesimpulan. Ternyata bukan sekadar rumor atau berita di koran-koran belaka. Sekarang aku sudah membuktikannya dengan mata kepalaku sendiri. Di sini memang sarangnya para makelar kasus. Huhu!

Aku gelisah. Aku ketakutan. Aku panik. Mataku nanar menoleh ke arah jendela kaca. Ternyata rombongan lelaki kekar-kekar dan bertato itu masih mengejar kami. Mereka sudah berdesakan mengintip, dan dalam hitungan detik jika ada yang mengomando, niscaya mereka akan berhasil menangkap kami berdua.

“Mau bayar 100 juta tidak?” sergah seorang petugas dalam nada bengis.

“Bayar saja, Teteh,” rengek ibuku.

“Dari mana uangnya?”

“Jual rumah yang di Cimahi, ya Teteh, ayolah,” desaknya pula.

“Tidak! Aku tak bisa menjualnya. Itu atas nama Butet,” bantahku cepat. “Lagian Emak tinggal di sana.”

“Rumah yang di Depok, bagaimana?”

“Atas nama ompungnya si Zein.”

“Tanah di Bojong Gede saja, ya Teteh?”

“Tidak bisa, Mak, itu milik Haekal….”

“Jadi, kamu tidak punya apa-apa?”

Aku mengangguk. Aku tak pernah mempermasalahkan kepemilikan harta tak bergerak itu. Bahkan semua hasil pencaharianku dari menulis, satu-satunya pekerjaan yang mampu kulakukan, lebih banyak untuk menutupi keperluan kami sehari-hari. Sungguh, tak pernah kupermasalahkan, semuanya mengalir begitu saja.

Baru kusadari kini bahwa aku tak memiliki tabungan yang berarti.

“Mau diserahkan kepada mereka atau masuk penjara?” sergah seorang petugas, lebih bengis dari rekannya.

“Mengapa harus dipenjara?” gugat ibuku.

“Karena tidak mampu bayar 100 juta!”

“Lebih baik mati daripada masuk bui!” seru ibuku.

Sempat terlintas dalam benakku, mengapa tidak dibui saja? Bukankah itu suatu pengayaan batin yang hebat? Seperti Pramudia Ananta Toer, karya-karya fenomenalnya berlahiran di Nusakambangan. Di dalam penjara kita tak perlu memikirkan cari makan. Nanti, kerjaku hanya menulis, menulis, dan menulis. Enak toh?

“Ayo, kita minggat saja, lari ke belakang sana, Teteh,” bisik ibuku mendesir di telingaku. Aku mengiyakannya. Serentak kami berdua menyeruak di antara para petugas.

Seketika kukatakan kepada diriku; “Ayo, sekarang terbang, terbang, terbaaang!”

Oh, aku bisa terbang, demikian pula ibuku, begitulah menurut perasaanku. Beberapa saat lamanya kami segera melayang-layang di atas kepala para petugas, keluar dari kantor polisi itu. Serasa ringan untuk sementara, kami melesat terus, dan membumbung tinggi, sampai tiba-tiba…, gubraaakkk!

Kami berdua terpelanting tepat di tengah-tengah gerombolan debtcolector. Tak pelak lagi mereka segera mengeroyok kami yang terjsajar tak berdaya di tanah. Aku melihat emakku dilemparkan jauh, jauh, jauh sekali, entah ke mana!

Aku tak bisa melihat sosok emakku lagi. Aku meraung-raung dan berteriak-teriak memanggilnya, menyerukan penyesalan dan permintaan maafku. Aku, si sulungnya ini, ternyata tak mampu melindunginya.

Duhai, emak, emakku yang malang….

Buncah melaut sudah air mataku. Aku takkan pernah melihat ibuku kembali. Betapa pedihnya. Dan bagaimana aku akan mengabarkan kehilangan ini kepada adik-adikku di Cimahi? Mereka takkan memercayai ceritaku. Kejadian yang menimpa kami berdua ini sungguh tak ubahnya seperti sinetron!

Ya, siapa yang mau memercayaiku?

Sekonyong-konyong ada yang mengimingkan sebilah pedang panjang di atas kepalaku. Sebelum aku memutuskan suatu sikap, seketika pedang itu menyambar perutku, telak mengenai bagian limpaku.Craaasss!

“Sakit, aduh, aduh, ya Allah…,” aku mengerang-erang.

Demi Tuhan, sekujur tubuhku rasanya luluh-lantak dan sakit luar biasa. Aku merasa tak ingin melihat dan mendengar apapun lagi. Aku ingin lenyap saja dari muka bumi ini. Berharap dengan begitu rasa sakit yang menyergap ini bisa ikut lenyap. Namun, ada suara-suara bising di sekitarku.

“Pasien nomer 9 sudah sadar nih, dokter Kris!”

“Berontak terus, sakit sekali, katanya!”

“Biar aku periksa, Sus.” Nah, kalau ini suara dokter Kris.

Ia menghampiriku, menyentuh tanganku dan berkata ramah, “Ibu, alooow, sekarang Ibu sudah sadar?”

Aku berusaha keras untuk membuka mata, tetapi seketika ada yang melindap di otakku. Aku sudah sadar, kata mereka. Alhamdulillah, ini artinya tadi itu aku hanya bermimpi. Jadi, ibuku masih hidup, ya, masih hiduuuup!

Ada rasa lega, senang dan bahagia menyadari hal ini.

“Kalau bisa dengar kata-kataku, jawab, ya Bu,” suaranya membujuk. Hfffffff!

Bagaimana mungkin aku bisa bersuara? Terasa ada yang mengganjal di tenggorokanku. Menyakitkan sekali.  Ada yang menutupi hidungku dan wajahku. Kupikir mereka telah mengkerangkengku, memberangus mulutku. Bahkan aku tak bisa melihat apapun. Tuhan, aku pasti telah buta, jeritku mengawang langit.

Aku mengira kemudian dokter Kris memeriksaku, menempelkan sesuatu di dadaku, menyentuh perutku. Dan aku menjerit-jerit kesakitan!

“Beri morphin 0,5 mg….” Itu bukan suara dokter Kris yang kukenal.

Apa, katanya, morphin? Ya Allah, jangan!

Aku berusaha terus agar bisa memberi tahu mereka tentang pikiran dan perasaanku. Akhirnya; plaaasss!

Aku bisa melihat, meskipun samar-samar, beberapa perawat mengerumuni ranjangku. Dokter Kris selesai memeriksaku, sekali lagi memberi instruksi, tetapi tak jelas di kupingku. Seorang perawat dibantu rekannya memberiku injeksi melalui abocat di pergelangan tangan kiriku.

Ya, mereka telah memberiku morphin. Allahu Akbar!

Bagaimana jadinya diriku ini jika ketagihan morphin? Mending kalau selebritis seperti si Michel Jackson itu, pantas-pantas sajalah. Tapi ini, bayangkan, nenek-nenek morphinis? Ampun, ini sungguh memalukan sekaligus tak terampuni.

Dan aku sungguh tak berdaya. Plaaaas!

Aku  pun kembali melayang-layang. Dalam imajiku, dalam halusinasiku, kini tak ada teror lagi. Hanya keheningan yang mencekam dan itu sungguh mengerikan.

Bersambung

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama