Bawa SKTM: Demi Keringanan Uang Masuk UI




Anno, 2006

Pipiet Senja 

Ketika Butet diterima di UI, 2006, harus bayar uang masuk 6 juta. Karena tak ada dananya, saya dan Butet nekad menghadap Dekan FHUI.

Membawa SKTM alias surat keterangan tidak mampu.

Tanpa kesulitan kami bisa jumpa dengan Dekan. Beliau menanyakan pekerjaan saya.

"Mama, bilang saja dengan jujur," bisik Butet mendesir di kupingku.

Baiklah!

"Jujur saja, Pak, saya penyintas Thallasemia. Tiap bulan harus transfusi dan dana berobat saya tinggi...."

Saya lihat Dekan tertarik, menatapku dengan sorot empati. Entah mengapa yang terlintas di benakku bukan jawab profesi, malah urusan penyakit. Maklum, saat itu HB saya sudah rendah jadi mikirnya transfusi melulu. Sudah macam drakuli saja ya, eeeeeh!

Segera saya sodorkan kartu pasien Thallasemia.

"Ada seorang sastrawati terkenal juga penyintas Thallasemia," ujarnya karuan mengagetkan kami.

Eeeh, Butet nyeletuk;"Namanya Pipiet Senja, eeh, nama penanya...."

"Iya, betul itu. Istri saya suka sekali dengan karyanya. Banyak novelnya di rak buku...."

"Nah, ini Mama saya, penulis yang Bapak maksud," tukas Butet.

Setelah itu bebaslah Butet dari keharusan bayar uang masuk, 6 juta. Semester berikutnya dapat subsidi, kalau tak salah dari Bank apalah begitu. Ada juga beasiswa prestasi. 

Begitulah sampai Butet diwisuda 2011. Seharusnya 2010, tetapi karena fokus berbakti mengurus emaknya ini dioperasi limpa, Butet mengulang satu semester.

Alhamdulillah, Butet lulus S1 dan S2 FHUI berkat banyak kemudahan. Semoga Universitas Indonesia tetaplah memberi keringanan biaya bagi anak anak bangsa berprestasi, walaupun dari kalangan jelata seperti kami.

Terima kasih UI, telah meluluskan kedua anak saya si penyintas Thallasemia, tukang nulis ini.


Salam, Pipiet Senja.

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama