Emak, Aku Rindu



Pipiet Senja 

Emakku

keturunan Kasepuhan, Cirebon. 

Syahdan, buyutnya Emak, empat generasi di atasnya adalah seorang Putri Tiongkok yang dinikahi Sultan Cirebon.

Waktu kukecil hidupku

alangkah senang,

senang ditimang, timang

dinamakan kesayangan….

Ah, lupa daku lirik lagunya Bu Sud atau Pak Kasur, ya?

Suatu kali, umurku 9 tahun, lagi baong alias bandel, melakukan apapun semauku.

Main sepedahan keliling kampung Regol, ngorupsi duit belanja buat beli majalah, kokojayan alias berenang di sungai Cileuleuy, paparahuan di Empang, manjat pohon di atas sumur.

“Etah ulah luhur teuing, bisi labuuuh!” Eni, demikian kami memanggil nenek dari pihak ibuku, berseru-seru dari jendela. Jangan tinggi-tinggi, nanti jatuh, teriaknya berulang-ulang.

Sementara aku nangkring saja di atas pohon jambu klutuk, tinggi asyik baca buku cerita.

"Teteh, turun, jangan ketinggian, entar jatuhnya sakit, tahu!” adikku, En, mengingatkan.

“Iya, tenang saja, cerewet!” sergahku sambil tetap menikmati buku cerita karya Karl May, petualangan Old Shutherhand dengan suku Apache-nya selalu menyihir otak dan hatiku.

“Sini Neeeng… Eni kasih bolu, turun yaaa?” bujuk nenekku pula.

“Ini Neng, turun ya, Ema kasih buat jajan,” teriak ibuku.

Aku bergeming. Tetap nangkring di atas dahan dengan posisi uenaaak tenan.

“Si Teteh mah baong! Bodo, ah, tinggalin saja!”

En akhirnya bosan juga menemaniku, dia menggelosor turun diikuti oleh Dede, sepupuku. Jam demi jam berlalu, zuhur lewat, ashar lewat, akhirnya menjelang maghrib.

Perutku keroncongan, bukuku sudah habis kubaca. Maka pelan-pelan aku pun menggelosor turun. Tapi kepalaku keleyengan, keleyengan dan makin keleyengan.

“Waaa…. toloooong!”

Aku masih melihat lubang sumur di bawahku menganga lebar dan pastinya dalam. Karena sumur tua, sebelum ibuku lahir pun konon sudah ada. Peninggalan Embah Terong Peot ‘kali, ya?

Aku juga masih sempat menyambar sosok ibuku yang berdiri terpaku di ambang pintu, merentangkan kedua belah tangannya seperti hendak memelukku.

Zhieeeng, gubraaak!

Aku siuman setelah lewat Isya, dirubung-rubung dan ditangisi oleh orang serumah di tengah rumah nenekku.

“Alhamdulillah, nuhun Gusti Anu Agung, sudah sadar, Neng, Geulis….”

Demikian yang terucap dari mulut ibuku, airmatanya membasahi rambutku, pipi-pipiku.

Dia memelukku erat sekali, seakan-akan tak ingin terpisahkan lagi.

Ya Robb, betapa kasihnya engkau, Emak.

Tak ada sesalan meskipun tentu sudah membuatnya kesal setengah mati, sepanjang hari tak mempan membujuk si sulung yang tersihir karya Karl May.

Pagi ini ketika di radio Prambors penyiar heboh mengucapkan selamat hari Ibu, bergantian mengungkapkan kenangannya tentang ibu masing-masing. Kenanganku berputar lagi ke masa silam yang tak mungkin terlupakan.

Betapa banyak derita, sengsara, kepedihan dan kemarahan yang bisa kutimbulkan akibat ulahku yang seharusnya melukai hati ibuku.

Namun, Emak senantiasa tersenyum lembut, terkadang begitu bersahaja dan lugas menerjemahkan situasi yang menimpa anak-anaknya.

Hari ini, Mak, kukenang kembali segala cintamu yang pernah kau limpahkan kepadaku. Tiada kata yang mampu kurangkai, tiada ungkapan yang mampu kusampaikan.

Cintamu senantiasa menguatkan semangatku, hingga aku pun berusaha menjadi seorang ibu yang tegar, ibu yang tabah, ibu yang istiqomah bagi anak-anakku. Cinta, Mak, senantiasa. Anakmu yang belum mampu berbakti sepenuhnya.

Pagi pagi, ibuku yang kami sebut Emak itu, sudah beberengkes alias tergesa-gesa kepingin balik ke Cimahi. Padahal baru juga datang sehari sebelumnya.

Alasannya,”Emak ditungguan ku acara halal bi halal di Haji Hafidz.”

Sudah ditunggu acara halal bi halal dengan guru mengaji, katanya.

Ah, biasalah ibuku ini memang kalau datang suka ngagurubug, alias tiba-tiba tanpa pemberitahuan.

Pernah karena di rumah tak ada siapa-siapa, Emak diam saja di lapak rongsok yang bersebelahan dengan rumahku.

Aduhai, kasihan nian. Sering aku menitikkan air mata setiap kali melihat perawakan yang tampak semakin hari semakin kecil mungil, pendek, tapi langkah-langkahnya masihlah tegar dan perkasa.

Sesungguhnya jiwanya yang selalu perkasa.

Di  umur 74, kelahiran 23 September 1935, Emak tampak lebih kuat daripada emak-emak sebayanya.

Buktinya, begitu ada anaknya yang sakit atau kesulitan pasti segera datang. Tak kenal waktu, tak kenal jarak.

Emak tinggal bersama anak-anak asuh dan seorang adik di Cimahi, sebuah rumah tua yang nyaris rubuh.

Paling membuatku salut sekaligus kesal kepada adik lelaki. Adalah rasa pengorbanan Emak yang luar biasa buat anak-anak lelakinya.

Dua anak lelakinya hampir tak bisa diandalkan secara finansial. Bahkan kalau Emak kangen, maka Emak akan datang sendiri mencari kedua anak lelaki ini.

Suatu kali, seorang anak lelaki terlibat kesulitan ekonomi dan utang yang berjibun. 

Emak dengan tulus menyodorkan Skep pensiun, dan kartu pensiunnya untuk digadaikan, uangnya diberikan kepada anak laki-laki ini.

Tiap bulan, Emak yang membayari utang anaknya ini. 

Kalau mau ambil pensiun, Emak harus pergi dulu menghadap si retenir Batak, tempatnya menggadaikan skep dan kartu pensiun.

Emak diam saja kalau dimaki-maki sekalipun oleh si rentenir, karena telat membayar.

Ya Allah, aku hanya bisa menangis begitu kudengar lakon Emak ini.

Acapkali aku dan anak-anak berjuang mengumpulkan uang, demi melepaskan Emak dari kesulitan keuangan.

Sepertinya sepanjang hayat Emak, dia akan selalu dibelit kesulitan ekonomi, demi membantu anak-anaknya yang belum mampu.

Aku tak bisa membayangkan, seandainya kelak diriku seperti Emak, tua, renta dan tak berdaya.

Ya, akankah usiaku sampai ke sana? Namun yang jelas aku sudah bertekad; jangan sampai menyusahkan anak-cucu. 

Jadi, mulailah daku kasak-kusuk, mencari di mana kira-kira ada panti lansia wredatama seperti tempat mukimnya NH. Dini, sastrawati mumpuni itu.

Bila saat itu emakku masih ada, maka aku akan menemaninya, setiap waktu, setiap waktu.

Emak, semoga Allah SWT memudahkan dan memberkahi sisa-sisa hayatmu.

Cinta kasihku untukmu seorang, Emak tersayang.

Hari ini, Mak, kukenang kembali segala cintamu yang pernah engkau limpahkan. Tiada kata yang mampu kurangkai, tiada ungkapan yang mampu kusampaikan.

Haulnya betepatan dengan Malam Nisfu Syaban. Tepat punya dengan hari kelahirannya, Jumat. Masya Allah.

Kuingin keperkasaanmu pun engkau wariskan kepada diriku yang ringkih ini. Agar diriku menjadi ibu yang tangguh untuk anak-anakku. Maafkan anakmu yang belum mampu berbakti sepenuhnya.

Emak berpulang pada 18 Maret 2010. Mengembuskan napas terakhirny di ranjang RS Dustira, seperti Bapak kami.

Selamat berkumpul dengan Bapak, Emak. Semoga kita diperjumpakan kembali di kampung akhirat.

Al Fatihah.

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama