Mengenang 1 Muharam: Dari Masa ke Masa



Pipiet Senja 

Melihat video kiriman seorang Mama, orangtua cucuku, Qania. Tema Pawai Tahun Baru Islam di SD Tugib Depok. Seketika aku teringat serpihan kenangan seputar 1 Muharam.

Masa kanak-kanak di kampung halaman Sumedang. Kelas 4 SD Sukaraja, untuk pertama kalinya dizinkan ikut pawai obor. Jarak tempuhnya lumayan jauh. Terutama untuk ukuran seorang anak yang sering pingsan jika kelelahan.

Dari alun-alun, tepatnya Masjid Agung keliling Regol sampai Gunung Puyuh, pulang-pergi!

Ternyata semangat sekali aku saat itu. Sepanjang jalan kami sholawatan selang seling murojaah. Adakalanya seorang Ustad mengomando untuk teriak takbir.

“Allahu Akbar!”

Disambut peserta pawai obor: “Allahu Akbar!”

Niscaya antek-antek PKI yang memang telah kalah saat itu: gemetar ketakutan!

Meskipun yang teriak anak-anak kecil. Agaknya itulah pertama kalinya dalam hidupku, merasakan semangat jihad fi sabilillah.

Satu rasa, satu semangat yang akan kutangkap kembali tatkala ikut aksi BEMI. Barisan Emak Emak Militan Indonesia. Barisan aktivis perjuangan melawan kezaliman rezim.

Beranjak remaja kukenang Malam Tahun Baru Islam bersama santri di pondok pesantren Rangkasbitung, Banten.

Aku memaksa ikut demi jalan bareng putra Kyai yang bening. Mengalahkan beningnya aktor Korea. Seriuuus. Banyak loh putra Kyai yang bening-bening, penghafal Al Quran, soleh dengan ilmu mumpuni.

Kini mereka menjadi para pemimpin Pondok Pesantren. Pendidikan mereka kebanyakan alumni Yaman, Mekkah, Madinah dan Mesir.

Pasca menikah kuintip suasana Pawai Obor di kawasan Kalipasir, Jakarta. Beberapa hari kemudian, tepatnya 10 Muharam aku melahirkan anak pertama yang kuberi nama: Muhammad Haekal Siregar.

Oya. Heran sangat dengan saudara saudara seiman kita.

Tiap menjelang tahun baru Masehi, hayoooh, rame-rame heboh bikin resolusi tahun barulah.

Mau bakar ikanlah, bakar kembang api dan petasanlah. Bakar, bakar, bakar..., macam-macam yang bersifat mubajir.

Bukankah dengan begitu telah mengakui tahun Masehi identik dengan Kristiani?

Bukankah tahun baru Islam adalah Muharam? Tahun baru Hijriyah?

Bukankah kita bisa merenung dan membuat rencana, kerennya resolusi itu tiap bada lail, Tahajud di sepertiga malam? Kita bisa melakukannya tiap malam bukan hanya setahun sekali, Bestie!

Duh, baca sejarah atuhlah saudaraku seiman.

Jadi terkenang sebelum dipanggil Sang Pencipta, aku bersama saudariku seiman Iesye Martini pergi malam Tahun Baru Muharam di Masjid Taman Mini: At Tien.

Konon dibangun atas prakarsa Ibu Tien Suharto.

Sengaja sudah diniatkan sejak lama, karena kepingin berdoa, itikaf berjamaah hingga subuh.

Padahal aku baru transfusi dan agak demam. Iesye Martini pun ─║agi kambuh reumatik. Sehingga kami duo Lansia jalan pelan-pelan, saling menguatkan. Ajaibnya kami merasa bahagia malam Muharam terakhir untuk Iesye.

Kejadiannya sebelum Pilpres 2019. Sejak sama-sama ikut barisan emak-emak aktivis, 2016. Lawan Ngahok!

Duhai, kenangan nan tak terlupakan. Semoga sampai jua ke Tahun Baru Muharam mendatang. Merembes airmata mengenangmu sahabat sejati, Iesye Manini. 

Jumat hari yang disunnahkan untuk memperbanyak sholawat. Insya Allah.

Kini menjelang tengah malam, pukul 23.23 Muharam 1444 Hijriyah.

Dari balik jendela kamarku di kawasan Cibubur. Alhamdulillah, sama sekali tiada kembang api apalagi petasan di perumahan.

Terasa senyap. Hening. Sebening langit biru.

Seketika pula aku teringat artikel tentang ramalan Joyoboyo. Tahun dengan angka kembar akan terjadi goro-goro, gonjang-ganjing. Sebagai Muslimah tentu aku pun tak boleh percaya dengan ramalan.

Namun, aku mau ambil harapan di malam Tahun Baru Islam ini. Tidak haram kan?

Semoga Tahun Baru Hijriyah kini, rakyat kita diangkat dari kemiskinan, dijauhkan dari kezaliman. Sejahtera dan damailah bangsaku. Sebaliknya segera diazab para pengkhianat bangsa. Al Fatihah.

Sebab semakin tampak saja segala kekacauan yang terjadi kini.

Para penista agama kian merajalela. Para koruptor raib entah ke mana. Eeeeh, ndilalah segala pembawa lagibete, pelaku maksiat malah dijadikan idola.

Giliran ada Ustad mengajak itikaf di Masjid malah habis dinyinyirin di medsos.

Duhai ya Robbana…

Lindungilah bangsaku.

Indonesiaku: Allahu Akbar!

Repost CIbubur, 1 Muharam 1444 Hijriyah

Foto: Menjenguk sahabat seperjuangan yang telah meninggalkanku; Iesye Martini, semoga kita jumpa kembali di kampung akhirat. Al Fatihah

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama