Jalan Panjang Menuju Pulang

 Nukilan: Jalan Panjang Menuju Pulang


Pipiet Senja 

“Kamu tidak bawa hape, ya, Fatin?”

Fatin menggeleng.”Bukan tdak bawa, tapi tidak punya,” sahutnya polos.

“Kalau begitu nanti sore….” Suaranya mengambang di udara.

Pintu terbuka sosok itupun muncul di hadapan mereka. Mengenakan stelan jas lengkap dengan dasi bagus, dan sepatu mahal. Ia memiliki fostur tinggi besar, wajah mirip aktor Hollywood, ganteng dengan senyum menawan. Meskipun umurnya sudah lebih separo abad, Rimbong masih gagah dan berwibawa.

Hatta, leluhur Rimbong perpaduan antara kakek Brazil dengan nenek Belanda-Ambon. Ibunya indo Flores-Belanda dan ayah asli Menado.

“Siapa yang butuh ponsel?” suaranya yang bariton menggema.

Fatin dan Rieki saling pandang.

“Oh, tentu saja kamu, ya, Fatin? Bisa pakai ini saja nih!”

Fatin tak sempat menolak. Ia harus mengikuti gerakan lelaki gagah perlente itu, begitu serba cepat. Begitu spontan meletakkan sebuah ponsel canggih di tangannya.

Rimbong segera melangkah cepat ke arah lift. Sementara Rieki menyingkir jauh-jauh dari sisinya. Tahu-tahu Rimbong sudah menggiring Fatin masuk lift, kemudian memencet angka tertentu.

Lantai 25!

“Jangan takut dan berprasangka,” kata lelaki yang digosipkan suka daun muda itu, saat mereka keluar dari lift. ”Kamu tidak mungkin berpakaian macam ini untuk menemaniku membuka seminar berskala Nasional di atas.”

Fatin kembali tak bisa mengelak. Ia mengikuti lelaki yang umurnya lebih tua dari ayahnya itu memasuki sebuah suite room. Agaknya ini ruang pribadi sang Direktur. Tidak sembarang orang mengetahuinya.

Rimbong membuka lemari dan tampaklah berbagai gaun aneka model, bergantungan dengan indahnnya.

“Pilihlah yang sesuai dengan selera dan keyakinanmu,” katanya sambil bergerak meninggalkan Fatin di kamar yang mewah dan full AC itu, menyingkir ke ruangan sebelah.

Beberapa saat lamanya Fatin celingukan, bingung sendiri. Sampai diingatkan suara bariton dari ruang sebelah.

“Hanya sepuluh menit, oke?”

“Oh, iya, insya Allah!” Fatin tergagap.

Seumur hidupnya ia telah terbiasa bekerja keras. Membantu orang tua di rumah, di sawah atau di kebun. Ketika teman-teman sibuk bermain, pergi ke Mall, nonton film atau konser. Ia sibuk mencari cara bagaimana bisa menguasai bahasa Inggris tanpa kursus.

Akhirnya ia berhasil menemukan cara yang tepat, tanpa pergi ke tempat kursus, sekaligus gratis. Menjadi pengasuh anak Ibu Lina, guru bahasa Inggris di sekolahnya.

Ibu Lina dengan senang hati menerima tawarannya. Menyerahkan pengasuhan anaknya yang masih Balita di tangan Fatin.

Terutama jika ia ada kuliah akhir pekan, karena sedang pasca sarjana di Bandung. Sementara suaminya sudah lama meninggalkannya demi perempuan lain.

Serentak Fatin mengamati koleksi gaun di lemari. Agaknya Rimbong memang sengaja telah menyediakan gaun yang pantas untuk seseorang.

Kebetulan saja yang sekarang membutuhkan adalah dirinya, gadis desa Bojongsoang yang telah dipercayai untuk mendampinginya ke even berskala Nasional.

Demikianlah yang terlintas dalam benak Fatin.

Ia menghormati lelaki yang lebih tua dari ayahnya itu, sebagaimana menghormati orang tua. Ia tak peduli dengan gosip negatif yang berseliweran.

Direktur menyukainya hanya sebagai anak muda yang bisa diharapkan sebagai karyawan hotelnya. Begitu pulalah menurut Rieki yang sering menasehatinya.

Ternyata lebih dari satu kodi gaun di lemari ini adalah busana Muslimah.

Fatin hanya membutuhkan sekitar lima menit untuk ganti seragam sekolah, jaket almamater dengan sepotong busana Muslimah yang anggun.

“Sudah, bajunya yang ini saja, Pak,” kata gadis cantik itu saat menghampiri sang Direktur di sebelah yang ternyata ruang keluarga dan bar.

Rimbong menoleh ke arahnya, seketika menatapnya dengan kagum. “Wooow!” serunya berdecak takjub.

Fatin kini mengenakan busana Muslimah dari butik terkenal. Sebuah gaun terusan pulas hijau tosqa, model sederhana, lengan panjang kerah berdiri dengan jilbab modis.

“Kalau begini kamu jadi mirip artis sinetron itu, ya, hmm…. Siapa itu yang suka memerankan tokoh berhati bidadari?” Rimbong tulus memujinya.

“Suka nonton sinetron juga, ya Pak?” Fatin menatapnya lucu.

“Pernah kulihat orang rumah lihat sinetron,” katanya sambil terus memandangi penampilan baru gadis di hadapannya.”Sungguh, kamu mirip Marshanda. Ya, itu dia!”

“Ah, Bapak ada-ada saja.” Fatin tersipu dengan wajah memerah jambu. “Ini kerudungnya cantik sekali, bahannya lembut dari sutera indah. Kalau sampai rusak sedikit saja, wah, bagaimana aku harus menggantinya nih?” sambungnya jujur.

Rimbong tertawa mendengar pernyataan jujur begitu. Namun, ia melihat kesungguhan dan rasa kuatir di mata gadis belia di hadapannya

“Santai saja. Tidak perlu diganti sebab gaunnya sejak saat ini milikmu sendiri.”

“Ah, Bapak, ada-ada saja,” kata Fatin menganggapnya sedang bercanda.

“Serius, ini untukmu. Kalau mau, pilih lagi gaun lainnya. Tapi nanti, ya, kalau seminarnya sudah selesai. Ayo, kita berangkat!”

Bersambung

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama