Anekdot: Kecewer Bleh










Kecewer Kecewer Bleeeeh!

Pipiet Senja 

Kali ini ingin kuceritakan kelakuan Manini Qania di tengah super macet. 

Kami masih berada di kawasan super maceeetooot!

"Di mana nih, Uni?" tanyaku kepada sahabat jurnalis BBC, mukim di Inggris asli Minang.

"Sitinjau Laut...."

Tiba-tiba aku merasa tak tahan lagi untuk buang urine. Kuminta aqua kepada peserta dari Palembang. Ia memberikannya dengan ikhlas.

"Tolong dibuka pintu belakang, ya Uda," pintaku kepada sopir bus dinas Provinsi.

Tanpa babibu dia pun segera memenuhi pintaku.

Ternyata hasratku diikuti oleh barisan budayawan, sastrawan, aktivis perempuan dari berbagai daerah dan negara.

"Saling menutupi saja, ya," pesanku berulang kali. 

Segera ada yang menutupi dengan selendang, kainnya. Kulihat pintu mobil yang terbuka lebar, cukup menutupi para pelaku: kecewer kecewer, bleeeh. Hihihi!

Aku sudah pengalaman urusan begini. Ketika sering keliling Indonesia. Bahkan ketika di Mesir dan padang pasir.

Kali ini karena secara massal, tak urung limbahnya mengalir deras. Bagaikan hendak balapan dengan gerimis yang kian rapat, tipis.

Hanya dalam hitungan detik saja itu limbah terus mencari dataran rendah. Wkkk!

Serius, aku geli setengah mati. Tapi kutahan sekuat daya. Begitu lihat sesama pelaku saling nyengir.

So pasti antara jengah dengan perasaan lega. Sebab sudah terbebas dari beban dahsyat menahan limbah.

Plooonglah, Bestie.

Begitu sudah kembali ke bangku masing-masing bus, entah siapa yang memulai. Seketika meledaklah tawa kami!

Sungguh benar sekali. Bahwa di antara kesulitan niscaya ada hikmah yang bisa dipetik.

Pengalaman satu ini apa hikmahnya, coba? Selain plong lega pasca kecewer kecewer, bleeeh?

Yang pasti jika menahan buang air kecil terus menerus dan dalam tempo lama. Sering terkena gangguan saluran kencing.

Hayo, mau kena penyakit saluran kencing atau ikut barisan kecewer kecewer bleeeh?

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama