Novel Belimbing Sayur #4




Bab 4: Menuju Pesantren Gaib

Pipiet Senja & Deva Shastravan 

Mak Ijot sejak dilarikan Abah Emod hanya memilih diam. Meskipun beberapa kali Abah Emod mengajaknya bercanda, Mak Ijot tak menanggapi. Namun, karena penasaran akhirnya bersuara juga. “Woooy! Kami berdua mau dibawa ke mana ini teh, woooy?”

Abah Emod belum menjawabnya. Hampir satu jam perjalanan sejak meninggalkan Desa Sukariang. Jalan yang ditempuh Abah Emod yang mengendarai mobil milik Camat, bukan menuju ke arah kota. Ini ke arah jalan sunyi semakin lama semakin jarang rumah yang tampak di kiri kanan mereka.

Mak Ijot pun sudah menyadarinya. Mereka mulai memasuki kawasan hutan yang asing. Diliriknya Mak Erot di sebelahnya. Eeeh, malah tertidur lelap!

“Jawab, woooy, jawaaab!” Mak Ijot mengulang pertanyaannya.

“Aku bukan Woy!” tukas Abah Emod.

“Aduuuuh, banyak tingkah pisan nya!” gerutu Mak Ijot.

"Tenanglah, Jot, tenang. Aku tak seburuk prasangkamu. Aku bukan Lurah dan komplotannya itu. Aku berniat menyelamatkan Erot dari rencana busuk mereka." Abah Emod berusaha menenangkan Mak Ijot yang terlihat mulai panik.

"Jawab dulu pertanyaanku, kita ini sebenarnya mau ke mana?!" Suara Mak Ijot meninggi.

Sebenarnya dia juga mengerti kalau Lurah memang punya niat tak baik. Sebagai orang yang sudah punya banyak pengalaman, dia bisa merasakan keganjilan sikap Lurah saat menawarkan Mak Erot9 untuk tinggal di rumahnya.

"Oke oke..., aku jawab. Kita akan menuju ke rumah guruku, Ajengan Musthowi."

“Ajengan Musthowi ...." Kening Mak Ijot berkerut dalam.”Masih hidup gurumu?”

Dia memang tak pernah tahu siapa saja guru lelaki yang pernah mengisi relung hatinya itu. Namun, di umur mereka sekarang, seharusnya guru Abah Emod sudah almarhum semua.

"Jangan berpikir begitu, Jot. Ajengan Musthowi itu berbeda dari guru-guruku lainnya yang sudah meninggal. Apa yang akan kita hadapi ke depan nanti bukan perkara receh. Bukan hanya menyangkut nyawa Mak Erot, nyawamu juga nyawaku. Ini tentang bencana besar yang mungkin akan terjadi di Desa Sukariang." Abah Emod seakan bisa membaca jalan pikiran Mak Ijot.

Mak Ijot pun akhirnya mengalah tidak memprovokasi. Lagipula kalau Abah Emod berniat jahat pada mereka, sudah sejak awal bisa saja melakukannya. Mak Ijot menatap Mak Erot yang duduk tertidur di sebelahnya. Menatap perutnya yang besar aneh itu.

Tiba-tiba Abah Emod mengerem mendadak mobilnya. Tak ada angin tak ada hujan, sebuah pohon besar tumbang. Menghalangi tepat di jalan yang akan mereka lewati!

"Hmm, tepat dugaanku. Ini pasti ulah Si Emil. Celaka!"

Walau hanya gumaman kecil, tapi Mak Ijot bisa menangkap nada kecemasan.

"Apa maksudmu, Bah?" tanya Mak Ijot.

Belum sempat Abah Emod menjawab, terdengar suara tawa yang tak asing di telinga mereka berdua.

Abah Emod turun dari mobil sambil berkata, "Tetap di dalam, Jot. Jaga Erot. Aku akan menghadapi manusia segala keji ini."

Mak Ijot tak menjawab, hanya anggukan kecil mengiyakan. Dia tahu siapa Abah Emil, saudara kembar Abah Emod. Anehnya, sifat dan sikapnya berbeda 180 derajat.

Tak lama dari rimbunan pepohonan, muncul sosok lelaki berbaju merah dengan ikat kepala hitam. Wajahnya memang mirip Abah Emod. Hanya guratan kekejian di wajahnya berbeda dari guratan wajah Abah Emod. Kini wajahnya jauh lebih teduh dan ramah.

"Lama tak bertemu, ada angin apa tiba-tiba muncul di hadapanku, Mil?" tanya Abah Emod. Suaranya sedikit bergetar!

“He he he …. Denganmu aku tak ada urusan apapun, apalagi dengan Ijot. Urusanku dengan sosok di sebelah Ijot. Serahkan Si Erot padaku, maka aku takkan mengganggu kalian berdua bermesraan. He he he….”

“Wah tidak bisa, Mil. Keselamatan Erot ada dalam tanggunganku sekarang. Apa kamu ke sini atas perintah Lurah? Spesial mau mengambil  Erot dari tanganku?”

“Gaharu Cendana pula. Sudah tahu eh bertanya pula ha ha ha ….” Abah Emil tertawa terbahak sampai gigi rahangnya terlihat jelas.

“Dasar Cebong Kampret! Dibayar berapa kamu jadi anjingnya Lurah laknat itu.”

“Ckckck … Eh pengkhianat! Kamu pikir aku tak tahu kalau sebelumnya kamu pun jadi anjingnya juga?!”

“Gheeerrr!”

“Lekas serahkan Erot padaku! Jangan sampai aku main tangan dengan saudaraku sendiri!”

“Cuih!”

Abah Emod meludah ke tanah, tak sudi dirinya dianggap saudara oleh Abah Emil.

“Sudah lama kita tak berlatih tanding lagi, ya! Aku mau jajal, sekuat apa pukulanmu sekarang. Biar tua begini aku masih kuat menahan pukulan barang sejurus dua jurus darimu.” Cerocos kembarannya, sejak lama mereka sering berseteru.

Abah Emod langsung pasang kuda-kuda. Meski dari kata-katanya terkesan hanya ingin bertarung alakadarnya. Sebenarnyalah saat itu Abah Emod sudah bersiap untuk bertarung mati-matian melawan kembarannya.

Mak Ijot walau hanya menyaksikan mereka dari dalam mobil, tapi dia merasa ngeri juga. Apakah Abah Emod mampu melawan dan mengalahkan kembarannya?!

Tak butuh waktu lama, pertarungan besar terjadi. Pukulan dan tendangan berseliweran dengan sangat cepat antara mereka berdua. Keduanya memang  jawara yang ditakuti dan disegani siapapun sejak masa mudanya.

Ijot pun dulu bertemu dengan Abah Emod di sebuah pertandingan silat di tingkat Provinsi. Dia meraih juara dua putri sementara Abah Emod juara satu putra.

Tampaknya Abah Emod kalah gesit dibandingkan rivalnya. Tak butuh waktu lama bagi Abah Emil, untuk memasukkan beberapa pukulan telak yang mengarah ke wajah, dada dan perut Abah Emod.

Sehingga Abah Emod terpental beberapa tombak dan tak bangun lagi.

“Waduuuh! Gawat ini. Apa dia mati?” gumam Mak Ijot.

Ia menjerit dan keluar dari dalam mobil, tapi langsung mematung. Ada satu siuran angin yang secara tiba-tiba mengenai lehernya. Sebuah jarum menusuk sepanjang satu centi. Mengunci saraf dan ototnya, hingga membuatnya tak mampu menggerakkan sekujur tubuhnya.

Itu adalah totokan jarum jarak jauh, ilmu milik Abah Emil yang sangat langka, belum pernah ada yang bisa mengalahkan. Mak Ijot jadi merinding saat Abah Emil mendekat. Apa yang selanjutnya akan dilakukan lelaki tua pengabdi Lurah itu pada dirinya?

“Jangan khawatir Ijot, urusanku hanya menjemput Erot. Sepuluh menit lagi kamu akan kembali normal dan bisa kembali bergerak, he he he  ….”

Hanya dengan sekali tarik tubuh Mak Erot yang tertidur itu langsung berpindah dari dalam mobil dan kini berada di pundaknya. Saat berikutnya tubuh Abah Emil sudah berlari secepat kilat meninggalkan mereka berdua di tempat sepi itu. Gerakan Abah Emil begitu cepat dan ringan seakan tak merasa terbebani Mak Erot yang tengah berbadan dua.

Apa yang dikatakan oleh Abah Emil memang benar.

Ternyata sepuluh menit kemudian Mak Ijot bisa bergerak kembali dan langsung menghambur mendekati tubuh kekasih di masa silamnya. Dia jelas terlihat sangat mengkhawatirkan keselamatan Abah Emod.

“Mod! Emod Bangun! Kamu nggak mati, kan?!” Mak Ijot mengguncang-guncang bahu Abah Emod.

Abah Emod terbangun dan terbatuk-batuk.

“Ijot, apa-apaan kamu? Aku hanya pingsan, belum mati!”

“Ah, syukurlah.”

Meski tanpa adanya Mak Erot, keduanya tetap melanjutkan perjalanan menuju kediaman Ajengan Musthowi.

Sebuah gapura yang terbuat dari bambu kuning mereka lewati. Mak Ijot heran sendiri menyaksikan rumah-rumah yang kokoh sekitarnya. Ia tak menyangka kalau di tengah hutan begitu ada pemukiman.

“Ini Pesantren Gaib milik Ajengan Musthawi. Hanya murid-muridnya yang bisa melihat keberadaan pesantren ini. Bagi orang awam tempat ini terlihat hanyalah seperti rimbunan lebatnya hutan. Kamu jangan kaget saat bertemu dengan Ajengan Musthowi.

“Memangnya ada apa dengan gurumu?” Mak Ijot mulai penasaran.

 “Dia masih sangat muda, usianya masih dua puluhan. Dia nggak songong dan su’ul adab pada orang yang lebih tua darinya.”

Abah Emod dan Mak Erot turun dari mobil, di sebuah rumah yang tampak kecil tetapi teduh itu terlihat seorang pemuda tampan, dengan sorban putih di kepalanya dan jubahnya berwarna hijau lumut. Dia tersenyum menyambut kedatangan mereka.

“Apakah itu Ajengan Musthowi?” bisik Mak Ijot.         

Abah Emod hanya mengangguk pelan mengiyakan, wajahnya tetap menatap ke arah Ajengan Musthowi. Dia tersenyum membalas senyum sang guru.

Bagaimana nasib Mak Erot selanjutnya? Mampukah Abah Emod dan Mak Ijot merebut kembali Mak Erot dari tangan Abah Emil?

Nah, giliran Pipiet Senja yang akan menulis di bab selanjutnya.

Bersambung

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama