Arafah Bak Padang Mahsyar



Pipiet Senja 

Anno, 2006

Bada makan malam di restoran Hotel Intercountinental.

Kembali terjadi saling debat dan silang pendapat. Kali ini diperdebatkan dengan sangat serunya perihal Nafar Awal dan Nafar Tsani. Aku hanya bisa tercengang-cengang, kuakui diriku sangat awam urusan rukun haji ini, walaupun telah mengikuti manasik beberapa kali.

Jujur saja, aku malah baru tahu bahwa ada perbedaan yang signifikan antara Nafar Awal dengan Nafar Tsani. Demikian yang kutangkap dari silang pendapat yang terasa semakin menaik, menaik, menaik dan geraaah!

Nah, coba saja simak saling pendapat berikut ini.

“Ini terkait pada niatnya, ibu-ibu dan bapak-bapak calon haji yang dimuliakan Allah,” ujar Kepala Suku tampak mulai ngesang juga, menghadapi serbuan pertanyaan.

“Kalau sudah niatkan untuk Nafar Awal mabit di Mina seharusnya dua malam saja. Hanya karena dimajukan jadwalnya, ada kelebihan waktu dua hari. Jadi, kita mabitnya di Mina tiga malam, di Arafah satu malam. Dan, insya Allah, ada bonusnya nanti sehari semalam di Jeddah….”

“Kalau kita gak bisa keluar dari Mina setelah berturut-turut lempar jumrah itu, bagaimana jadinya?”

“Kita harus bermalam lagi di Mina dan diwajibkan bayar dam.”

“Kenapa kita gak bermalam di apartemen saja di Aziziyah?”

“Mengingat Haji Akbar, bisa dipastikan sangat-sangaaat padat!”

“Di Mina itu kan di tenda…. Dipastikan gak bakalan nyaman, saya sudah merasakannya…. Apalagi sekarang Haji Akbar!”

“Kalau kita menginap di Aziziyah, letaknya ke tempat melempar jumrah itu lebih jauh dan riskan sekali. Kasihan kepada ibu-ibu yang sudah sepuh dan sakit kalau harus berjalan kaki berkilo-kilo.…”

“Seharusnya yang beginian sudah ada solusinya!”

Nah, nah!

Aku mulai melihat topeng-topeng berlepasan, sueeer!

Seorang jamaah yang telah berkali-kali berhaji, tampak terang-terangan mulai sering melancarkan protes dan ketakpuasannya.

“Aku baru tahu kita naik mobil kemarin itu. Biasanya selama berhaji dengan travel-travel sebelumnya, kalau Non-Arbain itu pakai pesawat dari Jeddah ke Madinah. Tapi sekali ini, masya Allah? Mana mobilnya lumayan jelek pula. Dallah namanya, inget banget tuh!” ceracaunya tak terbendung.

“Sudah kita ambil suara saja kayak Pemilu geto loh!”

“Alaaah… lama lagi dong!”

“Langsung saja sekarang ditanya, siapa yang setuju Nafar Awal?”

“Ya!” sambut lebih dari separuh jamaah berseru mengacungkan tangan.

“Waaa… gak mencapai kuorum kalau begini sih!”

“Di sini kita bisa melihat karakter asli manusia, ya Teteh,” bisik dindaku tersayang, Ennike yang berpembawaan halus. 

Namun bisa berubah tegas, perkasa dan bijaksana pada saat-saat crowded di jalanan. 

Saat-saat inilah pembimbing haji kami yang berpembawaan tenang, humoris dan periang, Ustad Satori sangat berperan. Berkali-kali, tanpa terlihat lelah, mengurai-jelaskan keutamaan rukun haji, bukan sunatnya.

“Mari kita buka kembali bekal kita yang utama, ya ibu-ibu dan bapak-bapak calon haji yang dimuliakan Allah SWT. Nah, apa bekal kita itu?”

“Ikhlaaas!” sahut sebagian jamaah serempak dan kompak.

“Masih berkoper-koper tuh sesuatu yang bernama ikhlas,” celetuk seorang jamaah, tepat di belakangku.

Melihat gelagat yang sudah bisa ditebak bahwa hati jamaah bakal luluh juga akhirnya, aku dan beberapa ibu lansia diam-diam mengundurkan diri. Kami memilih menyerahkan segala sesuatunya kepada pihak penyelenggara. Lebih baik rehat, supaya besok ada simpanan tenaga untuk kegiatan ibadah haji selanjutnya.

Dendang Batuk

Setelah tiga hari tiga malam berada di Mekah, rombongan Cordova pun disiapkan untuk menuju Arafah. Sejak saat itu, catatanku agak error, kadang kuisi tapi lebih banyak blank-nya buku harian pemberian Cordova itu.

Sebab aku lebih fokus kepada kesehatan dan pelaksanaan rukun-rukun hajinya. Hampir tak ada kesempatan untuk menulis berbagai peristiwa yang kulakoni. Jadi, aku berusaha keras untuk mencatatnya di memori otakku saja. Semoga memoriku akan baik-baik saja, menyimpan kenangan indah.

“Inilah prosesi haji yang sesungguhnya…. Alhamdulillah, musim haji ini adalah Haji Akbar, maka pahalanya ratusan kali lipat dari haji biasa.” Suara Prof Satori terdengar berwibawa.

“Sesungguhnya rukun-rukun haji itu terdiri dari: ihram, wukuf, tawaf ifadlah, sa’i, tahalul atau bercukur, dan tertib….”

“Inilah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan, bila ada yang tidak terlaksana maka ibadah hajinya tidak sah…”

Kuingat lagi, saat itu tepat 8 Dzulhijjah, kendaraan mulai bergerak meninggalkan Mekah menuju Mina. Kemudian dilanjutkan ke Arafah, tempat jamaah melakukan wukuf.

Arafah terletak di luar kota Mekah sekitar dua mil. Jamaah pria kembali mengenakan baju ihram. Ibu-ibu berbusana serba putih. Larangan saat berihram pun diberlakukan, dan berkali-kali diingatkan oleh para muthowif.

Jamaah Cordova yang diangkut oleh bis dua, kami menyebutnya rombongan Sofitel, agaknya lebih dahulu tiba di tenda Mina. Mereka bisa leluasa mencari tempat atau sudut yang diinginkan, bahkan dapat mengangkat koper kecilnya masing-masing.

Rombongan Intercontinental harus rela mendapatkan sudut-sudut yang tersisa. Aku bahkan tak mendapatkan sudut yang bisa bergerak leluasa, selain selajur tempat tanpa alas berupa hamparan selimut di antara deretan kasur.

Tak mengapa, bukan hanya diriku sendiri, ada dindaku Sari dan Euis Muharom menemani. Lagipula, banyak juga jamaah yang tetap memelihara rasa kepeduliannya untuk berbagi dalam hal apa pun.

Mungkin, pikirku, inilah rezekiku dan demikianlah Allah SWT menjamu diriku. Segera kuperbanyak zikrullah dan berdoa, berlari ke kamar mandi untuk ambil wudhu dan kudirikan sholat sunat taubat.

Sungguh, aku merasa takut sekali akan azab-Nya!

Ya Allah, jauhkanlah hamba-Mu yang lemah ini dari azab dan siksa-Mu, sembunyikanlah segala aib dan dosaku, demikian kutasbihkan dalam hati.

Sekitar pukul sembilan malam, kurasa semua jamaah Cordova telah memasuki tenda. Di sini, mulailah aku menyaksikan sifat aslinya, sejatinya karakter manusia, dan topeng-topeng pun berlepasan sudah!

“Pssst… ingatlah jangan bergunjing, saudariku, kita sedang berihram….”

“Alaaah… Teteh ini ngapain sih paspes-paspes mulu dari tadi, dikasih tahu sekali juga gue paham!”

“Ini punya siapa sih, gede banget tasnya?”

“Iya! Ngalangin jalan, ngalangin orang-orang lewat saja!”

“Gak punya otak amat sih! Ngabisin tempat pula!”

“Bawa bekal kok banyak banget? Kayak mo kemping sebulan aja!”

“Woooi… mana tisu basahnya, coooy?”

“Sini ada… meeen! Jangan malu-malu deh, entar malah jadi malu-maluin!”

Kulihat dindaku Ennike terperangah hebat, menggeleng-gelengkan kepalanya dan bergumam perlahan;  “Ya Allah, Teteh. Itu kenapa pake cay-coy, man-men segalaya bahasa….”

“Iya Dinda, prokem aming,” tak terasa mulutku pun terkuak tiba-tiba. Ops, begitu menyadari, buru-buru aku mengucap istighfar.

Aku tak berhak mencela, sebab seperti itu pulalah bahasaku jika sedang bergaul-ria dengan putriku. Mungkin saja mereka melakukan hal itu sebagai penghilang stres. Prosesi haji memang sungguh menguras pikiran, lahir batin, jiwa dan raga. Jika mental labil, sungguh bisa dipastikan bakal stres!

“Selama menjadi dokter haji banyak sekali kutemukan jamaah yang mendadak gila,” berkata dokter Erry, dokter rombongan.

“Haaa? Mendadak gila bagaimana, Bu Dokter?”

“Yah, stres hebat, gila dalam tanda kutip,” jelas dokter Erry.

Kepala Suku memberi tahu bahwa rombongan akan bergerak kembali pada pukul duabelas malam. Mendengar hal ini, suara-suara mendadak berhenti total, kemudian semuanya berusaha untuk merehatkan badan. Dendang batuk pun mulai terdengar, secara serempak, bagaikan koor ajaib tengah malam di Makhtab 110, pertendaan Mina.

“Gimana gak bikin batuk, lha wong tendanya selama setahun ditutup. Musim haji baru dibuka kembali, mungkin gak sempat dibersihin,” seseorang menjelaskan tanpa diminta.

Kucermati memang ada banyak kotoran berupa debu, dan seperti kapas-kapas kecil beterbangan dari arah kipas angin. Jangankan bagi ibu-ibu sepuh, semuanya tak terkecuali terserang batuk dan beberapa sesak napas. Kurasa, asmaku pun bisa kumat. Alhamdulillah, hanya batuk dan gatal tenggorokan.

Ustad Satori sering bergurau tentang batuk ini: “Semuanya dipastikan terserang batuk kecuali onta!“

Maka, selama berhaji bukan hal yang aneh dan patut dicemaskan secara berlebihan apabila jamaah terserang batuk. Di sinilah, kembali muncul jurig songong yang tak pernah kenal waktu itu.

“Alhamdulillah, sampai saat ini aku sehat-sehat saja, bahkan batuk pun cuma dikiit,” sahutku ketika beberapa pengurus Cordova meluangkan waktunya mendatangiku, dan mereka menanyakan kondisi kesehatanku.

@@@

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama