Ditahan di Imigrasi Hongkong




Pipiet Senja 

Hong Kong, Sebelas Tahun Silam.

Pagi sekali sudah siap berangkat menuju Guangzhou. Ustad Fauzi, GM Dompet Dhuafa Hong Kong, sudah menunggu di kediamannya di Haven Street. Dari Causeway Bay terkumpul rombongan, yakni; saya, Ust. Fauzi beserta istri dan seorang balita, Ust. Sudiono, Hadad dan Abdul Azis.

Pukul 06.45 rombongan dari depan gedung KJRI berjalan kaki menuju halte bis di Victoria. Seorang anak muda berambut panjang, menyalamiku dan mengenalkan dirinya: “Umi, saya sudah kenal namanya. Pernah lihat Umi di TVOne, bedah buku karya BMI HK, Surat Berdarah Untuk Preesiden,” katanya santun.

Kemudian Hadad berbincang dengan Ust. Sudi dan Azis, dia bilang:”Nah, jadi saya ini teh mau naik potadong?” logat nyundanya kental habis. Karuan semuanya terdiam, menatapnya keheranan.

“Potadong itu nama kartu ganti karcis ini loh, nak Hadad. Kita mah akan naik bis dan MTR. Lagian kamu kan bukan Balita lagi, masa mau naik odong-odong?” godaku mulai ceriwis, bikin dia tertawa geli. 

Nah, mulailah OOT menggelar depan mata.

Waktu mau naik bis, lain lagi yang dilakukan Ust. Sudi. Berdiri di samping alat untuk menempelkan potadong, seketika dia mengacungkan potadongnya dan berkata kepada supir. ”Nih, potadong, ya!”

Seolah-olah dia ingin menunjukkan kepada khalayak bahwa dirinya sudah bayar dengan potadong. Hoho! 

Rombongan menuju terminal Hung Hom untuk naik kereta KCR menuju Lo Wu. Kali ini Azis yang kena masalah. Isi potadongnya tidak cukup, jadi harus beli karcis langsung, lumayan memakan waktu berhubung gaptek mengoperasikan mesin karcisnya. Dibutuhkan waktu 15 menit untuk beroleh karcisnya, setelah minta bantuan Ust.Fauzi.

“Karcisnya diambil lagi tadi, ya kan, Tad?” kata Ust. Fauzi ketika kami sudah berada di gerbong KCR yang lengang. Dijawab Azis dengan semangat bisnis sayurnya. ”Ya, jangan sampailah….”

Eh, ndilalah begitu sampai di Lo Wu, kembali si “Sayur Milder” julukan Azis, bikin urusan. Agaknya dia lupa dengan karcis yang dibilangnya “jangan sampai” itu. Dibutuhkan waktu sekitar 15 menit lagi, itupun setelah Ust. Fauzi turun tangan dengan membelikan karcis baru untuknya.

Setelah jalan kembali barulah Azis menemukan karcisnya yang menyelip di jaket Dompet Dhuafa. “Aku ini aneh, ya, selalu bermasalah kalau melintas batas, ada saja urusannya di Imigrasi,” begitu pengakuannya sambil mengusap peluhnya.

“Tenang saja, nanti baca Asma Ul Husna kalau mau melewati Imigrasi. Tatap lurus-lurus mata petugasnya, oke?” ujarku sok menggurui.

Sesampai di Lo Wu barulah kutahu bahwa rombongan ternyata lumayan banyak, bergabung dengan anak-anak Buruh Migran Indonesia dari Holaqoh Senin.

“Seumur-umur baru kali ini aku ke Guangzhou, padahal sudah sering ke Shenzhen,” kata Mia, sang aktivis tangguh, tukang gebrak-gebrak orang KJRI HK. 

Nama lengkapnya, Sumiati, sangat populer di kalangan BMI HK; kepada siapa mereka bisa memintai bantuan jika sedang bermasalah. Maklum, kinerja KJRI kita di negeri beton ini sudah populer pula sebagai; super ribet, hayyyaaaa, cincaylah!

Tralala, jumpa kembali dengan A Chin, pemandu wisata yang doyan mengocok perut itu. Anekdotnya, guyonannya masih sesegar dulu, saat pertama kali aku mengenalnya, Juli 2010. Nanti, ya, kubagi anekdot China ala si A Chin ini.

Ringkas cerita, kami hepi-hepilah, sebentar mampir di Jendela Dunia-nya Shenzhen, foto-foto, syoping-syoping.

Perjalanan dilanjutkan ke Guangzhou. Ziarah ke Mesjid tertua di Asia, mampir di makam yang diyakini sebagai kuburan Abi Waqash.

Kami makan siang sekaligus malam di resto Muslim. 

Lanjut ke pabrik giok, seperti sebelumnya rombongan digiring ke ruangan tertutup. Lelah kelilingan Guangzhou, akhirnya kembalilah kami ke Imigrasi.

Di Imigrasi China lancar saja, tibalah di bagian Imigrasi Hong Kong. Kulihat Azis yang berada di antrian sebelah kiriku, lama diperiksa, kemudian digiring ke ruangan Imigrasi. Begitu giliranku, lama juga diperiksa, petugas malah minta Ust.Sudi menemaniku. 

Tiba-tiba kami berdua digiring pulalah ke ruangan khusus!

Azis yang sudah duduk di ruang tunggu para tersangka, mendongakkan kepalanya, seperti kaget melihatku dan Ust Sudi.”Nah loh, ngapain ikutan ke sini?” sindirnya, kami berdua hanya cengiran. 

Lah, memang gak tahu juga, kenapa kami ditahan Imigrasi Hong Kong?

Ternyata ini disebabkan visa turis, tetapi kami kelamaan tinggal di HK, tiketnya untuk satu bulan. Padahal, peraturan HK hanya 5 hari saja untuk turis.

Nah, interogasinya kira-kira sbb;

“Apa kamu bisa bahasa Kantonis, Mandarin, English?” logatnya aneh di kupingku, kujawab sebisaku dengan ilmu tebak-tebak manggis. 

“Mengapa satu bulan tinggal di HK?”

“Holiday!”

“What holiday…. What your croop?” 

Beuh, job maksudnya, ya, dia nanyain pekerjaan gw euy!

“Aku penulis buku, novel Indonesia, ocreeeh?”

“Mengapa kamu bisa bolak-balik ke HK, China, Macau, Malaysia, Singapore?” 

Yeeeh, mau tahu aja nih si engkoh. Kalau dibilang aku penulis best seller dan bisa keliling dunia, nanti disangka somse pula. Halah!

Terus dia nanyain duit, harus ditunjukkin pula. Kebetulan hasil jualan buku masih kubawa dalam bentuk uang tunai dolar HK. Jadi kupamerkan sajalah sekitar 5000 dolar HK, 1000 yuan, sekaligus ada 2 kartu kredit dan 3 ATM. Halah, emangnya dia tahu berapa isinya?

“Mana nomer yang bisa dihubungi di HK?”

Kutunjukkan nomer Ust. Fauzi, dia telepon, kemudian angkat bahu, seolah mengisyaratkan:”Tidak ada jawaban, kamu bohong?”

Dia lalu tunjuk-tunjuk potret di paspor.”Ini kamu kan?”  

Karuan aku melengak, kecewa dan kesal setengah mati!

Kenapa ia masih bertanya lagi setelah dua jam lewat?

Dadaku, jantungku mulai degdegplas nih. Bagaimana kalau serius ditangkap, ditahan dengan tuduhan sebagai teroris? 

Dia menanyakan buku karyaku jenis apa dan mana buktinya aku penulis? Aku bertahan menggeleng, sebab apa jadinya jika kuperlihatkan buku; Orang Bilang Aku Teroris.

“Fauzi…, mm, his your son? You ‘re his modaaar?” 

Haaah, dia bilang aku modar?

“Mother ‘kali, Teteh, maksudnya,” bisik Ust Sudi. 

Oya? Aku gak mau bohong, gimana kalau urusannya jadi panjang, dia minta akte kelahirannya Ust.Fauzi pula? Weeeeiii!

Setelah lewat 2 jam 10 menit, barulah kuingat notice dari agen travel tur HK-Guangzhou. Kuberikan juga nomer Mia.

Agaknya dia baru percaya setelah melihat notice, ditambah penjelasan dari Mia melalui telepon bahwa kami bertiga; aku, Azis dan Ust Sudi adalah tamunya yang sedang holiday.

Setelah 2 jam 30 menit, akhirnya kami terbebas dari ruang Imigrasi, disambut Ust Fauzi, istri dan si Hadad di Lo Wu.

Saat kuceritakan sekilas, maksudnya kami bicara saling menyahut dalam gaya masing-masing. 

Maka, meledaklah tawa kami, geli setengah mati dengan kronologi penahanan kami, dan isi interogasi yang terasa aneh, ada banyol dan konyolnya. 

Entah bagaimana pula nasib kami, kalau tidak ada kertas Alibaba dan penjelasannya yang meyakinkan dari si Mama Mia. Hayyyaaa, bighug, Mia, emkosay! (Causeway Bay-HK)

@@@

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama