Dalang Ngocol


                      Foto Nyomot Google 


Dalang Ngocol

Pipiet Senja


Suatu siang, di bawah pohon mangga pekarangan rumah.

Tampak anak-anak mengerumuni Haekal yang hendak mendalang. Ada dua wayang golek di tangan Haekal. Oleh-oleh Tante Emi dari Bandung.

“Ayolah, Haekal, katanya bisa mendalang,” Reza tak sabar.           

“Mana ada dalang Batak, wheeei!” ejek Akmal.

“Jangan begitu. Haekal kan Batak campuran. Bapak Batak, ibunya Sunda…” Hilmi sok tahu menjelaskan asal-usul sobatnya.      

“Siapa pun boleh mendalang. Aku pernah baca di majalah, ada orang Amerika pintar memainkan wayang golek,” bela Reza.

“Betul itu!” dukung Arestia yang sering membanggakan kakaknya, mahasiswi Seni Rupa-ITB.

“Kak Telly pernah nonton wanita bule mendalang di Gedung Rumentang Siang. Namanya Miss Keti apa gitu…?”

“Iya, sudahlah… Sekarang  buktikan saja kemampuanmu, Haekal!” desak Akmal mulai bosan.

“Jangan cuma omong!” cecar Amin.

“Iyooooy… ini juga akan kubuktikan,” sahut Haekal kalem.   

“Buktinya mannnaaa?!” Amin gemas.

“Yeee… dari tadi kalian ribut melulu. Kapan aku bisa memulainya?”          

“Iyalah, kita nggak bakal ribut lagi,” Arestia mewakili kawan-kawannya.

“Sudah, ya! Za, geser sedikit! Jangan desak-desak Haekal. Biar leluasa mendalangnya,” perintah Hilmi.

Haekal pun mengawali permainan wayangnya. Ia memang amat menyukai wayang. Terutama wayang golek dan wayang orang. Ia memiliki kumpulan buku cerita dan komik wayang. 

Tak heran bila ia hafal betul tokoh-tokoh wayang dengan garis keturunannya.Kalau ia diajak Ummi berlibur ke rumah Eyang Buyutnya di Sumedang, Haekal pasti takkan melewatkan menonton wayang golek. 

Ia pun tahan berjam-jam mendengar siaran wayang di RRI. Maka betapa suka cita si Haekal, ketika dibawakan sepasang wayang golek oleh Tante Emi.

“Syahdan, dikisahkan di Negeri Amarta…”           

“Negeri Astina, barangkali?” sela Akmal merasa paling tahu Astina.

“Kamu itu… dikit-dikit jadi pembela Haekal, eheem!” sindir Reza.           

“Biariiin!” ketus Arestia.

“Aku sih suka dua-duanya. Amarta kek, Astina kek… sami mawon!”

Amin sambil menyusut ingusnya yang meler.

“Pasti ada alasannya kalau dalang memilih Negeri Amarta…” ujar Hilmi.

“Maksudku, mending dimulainya di Negeri Astina sajalah,” pinta Akmal.           

“Memangnya kenapa kalau dimulai di Negeri Amarta?” tantang Arestia panas.

“Iya… jangan-jangan kamu alergi sama Amarta, ya?” tuding Hilmi.      

“Sembarangan saja! Tahu juga nggak yang namanya Amarta, Yeeh?” bantah Akmal keras.

“Bukannya kemarin kamu baru pulang dari sana?” tanya Haekal enteng.           

“Huahahaha…” Anak-anak terbahak.

“Eeee, sudaaah, diaaam!” teriak Reza.

Untuk sesaat anak-anak mendadak terdiam. Kaget campur bingung. Kenapa Reza yang biasanya sabar, kok pakai teriak-teriak segala?

“Ini mau omong soal Amarta apa Astina, sih? Katanya tadi nggak bakal ribut. Ayo teruskan saja, Haekal!” Reza mulai jengkel campur tak sabar, campur penasaran. Jadinya campur-campur sari nih!

“Toroktok toook toook … ini juga memang mau dilanjutkan,” kata Haekal sok kalem, sok bijak dan sok dalang tentunya.

“Dikisahkan Prabu Yudhistira sedang dirundung bingung. Nah, kenapa dia bingung?” Sang Dalang berhenti dan menatap ke arah para penonton.

“Lho…? Kok pakai tanya penonton segala?” balik Akmal heran.           

“Iya, Haekal, jangan tanya penonton dooong!” protes Hilmi.

“Nanti honornya dipotong!” Arestia mesem.           

Amin menatap anak perempuan tomboy itu. “Memang ada honornya nih?”

“Psssstttt!” Arestia balik memelototinya.           

“Gratis kok, gratisss!” Hilmi beringsut mendekati dalang jejadian.

“Dalang bukan bertanya sama penonton. Cuma sekedar menguji. Apa penontonnya IQ jongkok atau otak Einsten…” ceracau Haekal.        

“Wheeei! Dalang ngacooooo!” teriak anak-anak dan mulai terkikih-kikih.

“Penonton lebih ngaco lagi!” tangkas Haekal.

“Sepertinya dalangnya kepingin pamer ngocol nih?” komentar Amin.

“Biarin ngocol asal keren!” lagi-lagi Arestia membelanya.

Haekal berlagak tidak mendengar. Ia melanjutkannya.

“Prabu Yudhistira bingung lantaran ajimat Kalimusada tiba-tiba lenyap. Entah ke mana lenyapnya. Belum ditanyain tuh. Kali saja digondol si Reza. Ya Za, ya ngakuuu!” tudingnya tiba-tiba ke arah Reza.

Karuan Reza kontan berjingkrak kaget.

“Eeee… jangan suuzon begitu, ya! Tahu juga nggak apaan tuh ajimat Kalimusada?” protesnya gelagapan.

“Bukannya kemarin kamu bawa-bawa main tuh jimat?” ledek Haekal lagi.

“Ngaku, Za, ngaku saja,” desak anak-anak ikutan menuding Reza.

Reza cemberut. “Terusin, ah, mendalangnya,” pintanya memelas.

“Baiklah, Um Reza Sayang… Toroktok tok tok, neng nong,  neng nong…”

“Guuuung!” tukas anak-anak sambil terus mengikik geli.

Haekal memainkan wayangnya dengan lincah. Anak-anak bersorak.

“Ini Prabu Yudhistira…”

“Yeeh, bukaan! Itu sih… wayang perempuan!” Arestia giliran komplain.

“Biarin! Orang wayangnya juga cuma dua kok. Ayo mainkan, Haekal! Lanjuuut!” pinta Reza melas campur galak. Terbayang nggak, ya?

Haekal melanjutkan.“Mendengar ribut-ribut di sekitarnya, Prabu Yudhistira semakin bingung. Rasanya ingin saja dia jitak kepala anak-anak yang sok tahu ini satu-satu. Biar kapok, biar kapok… neng nong, neng nong neng guuung!”

“Huuuh!” sorak anak-anak kian heboh cekikikan.

“Menjitaki kepala anak-anak itu tidak mungkin dilakukan. Kenapa? Kenapa coba, anak-anak?”

“Auuuuuuk!"

"Elaaaaap, aaaargh!"

“Karena kalau menjitaki penonton, mereka bakal kabur. Dalangnya nggak laku, neng nong, neng nong guuuung…”

“Whooooi!” gemas anak-anak.          

“Dalang ngacoooo!” jerit Akmal bareng Hilmi.

“Bagaimana nggak ngaco, penontonnya juga makin ngaco saja. Neng nong neng guuung…”

“Dalangnya teleeer!” seru Amin.

“Biar teler pokoknya dalang, neng nong, neng nong guuung…,” sahut dalang Haekal tangkas.

“Duuuuh, Dalang!” keluh Arestia, menahan tawa.

“Baiklah. Mari kita lihat kembali keadaan Prabu Yudhistira. Sang Prabu memanggil adik-adiknya menghadap. Bima, Nakula, dan Sadewa….”

“Arjunanya ke mana, Haekal?” cecar Hilmi.           

“Arjunanya lagi pergi bertapa di gunung Kiskenda….“

“Kirain lagi jajan bakwan Bik Minah,” celetuk Arestia sambil mengikik lagi.

“Waaah, emang nikmat tuh bakwan Bik Minah!” Amin gembul mendadak membayangkan bakwan. Matanya merem-melek.

“Di mana tuh Gunung Kiskenda?” tanya Reza.           

“Di kuburan nenekmu, neng nong, neng nong guuung…,” jawab dalang makin ngocol saja.

“Woooi!” sorak anak-anak makin geli dan makin heboh.

Haekal semakin bersemangat mendalang. Anak-anak sudah terpikat oleh permainannya. Sebentar lagi ashar. Dia mau mengaji. Jadi, ini lakon mesti dituntaskan. Taaasss!

“Prabu Yudhistira berembuk dengan adik-adiknya. Mereka sepakat memanggil Arjuna. Mengajak mereka mencari ajimat Kalimusada. Bima kemudian menyuruh putranya Gatotkaca untuk menjemput Arjuna….”

“Lho? Sebentaar!” tukas Amin. “Kepalaku jadi pusing nih.…”

“Kalau pusing minum saja dagorin hehe!” cetus Haekal enteng.

“Psst, katamu tadi mereka yang mau memanggil Arjuna?” buru Akmal.

 “Iya, perasaan tadi dibilang mereka itu.… Eh, siapa sih mereka?” Amin melirik teman-temannnya.

Namun, tak ada yang peduli. Biarin pusing, ya pusing tuh kepala si Amin!

“Kok sekarang malah menyuruh Gatotkaca?” protes Hilmi gerah.

“Hooh, lakonnya jadi ngocol begini, ya?” Akmal garuk-garuk kepalanya yang panjul.

“Mana yang bener siiih?” desak Reza, minta kepastian sang dalang.

“Penonton dilarang protes. Karena ini urusan dalang, toroktok tok tok…. Neng nong, neng nong guuung….”

“Woooi, tunggu dulu dong, Haekal!” teriak Hilmi.

Kali ini dalang Haekal tak peduli. Sungguh, sebentar lagi beduk ashar nih!           

“Maka Gatotkaca melesat mengambah jomantara.…”

 “Apa itu jomantara, Haekal?” buru Reza.

 “Gatotkaca tak sudi menjawab. Dia terus terbang, melayang-layang menembus rahasia jagat raya. Nun di Gunung Kiskenda, Arjuna tengah bermujasmedi.…”

“Katanya tadi bertapa, bagaimana sih, Haekal?” seru Akmal gemas.

“Bermujasemedi dan bertapa itu sami mawon podo bae, Nyong…”

“Walaah…. Dalangnya kumatttt!” teriak anak-anak serempak.

“Memang kumat. Heloooow, sekarang sudah tiba saatnya untuk ngamuk. Gatotkaca sejak tadi mengalah melulu. Tapi sekarang tidak tahan lagi. Gatotkaca akan menerkam anak-anak yang bawel,  sok jaim1 dan cereweeettt, weeeet!”

 “Uuuh!” sorak anak-anak sambil bangkit.

 “Dalangnya super ngocooool!” Arestia betulkan jilbab kaosnya yang miring kiri miring kanan.

 “Dibilangin juga, biar ngocol asal kereen, wheeei,” tukas Haekal.

 “Bubar, ayo kita bubaaar!” Akmal tak tahan lagi mengompori.

 “Lebih baik memang bubar daripada aku gampaaar!” balas Haekal galak.

“Waduuuh , seriuuus?” Arestia seketika bangkit.

“Geloooow yeeeh!”

Anak-anak bubar sambil berteriak-teriak dan tertawa geli. Haekal pun bangkit dan tertawa terbahak-bahak. Dipandanginya anak-anak yang ngacir bertemperasan.

Istiqomah yang baru datang memandanginya keheranan.

“Anak-anak itu, kenapa, Haekal?” tanya anak perempuan sebayanya.

“Ketakutan sama Gototkaca.”

“Oooh, kamu habis main wayang-wayangan?”

“Hmm. Seru deh!”

“Apa lakonnya, Haekal?”

“Lakonnya…. Ngng, apa ya?” Haekal garuk-garuk kepalanya.

Istiqomah yang sudah apik dengan busana Muslimah dan jilbab kecilnya, menunggu sabar.

“Oh, Gatotkaca ngamuk!” jawab Haekal sambil berlalu.

Dia terkekeh-kekeh, mengapit kedua anak wayangnya.

Istiqomah bengong memandangi tingkahnya.

Sayup-sayup terdengar suara azan ashar dari surau. Di kampung ini, anak-anak pergi mengaji dari Ashar hingga Maghrib. Kalau tidak melakukannya kayaknya bukan bocah Muslim tuh!

Sambung Gak Nih?

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama