Catatan Cinta dari Mesir Sepuluh Tahun Silam




Anno, 2013

Sastri Bakry 

Alhamdulillah sampai juga di Mesir, negara yang penuh dengan sejarah, negara para Nabi Allah, negara yang sekarang sedang konflik. Jika dibiarkan bisa seperti Suriah, perang saudara, begitu kata Pengamat Timur Tengah, Muhammad Najib, di Kairo beberapa hari yang lalu. 

Semoga tidak terjadi.

Satu hal lagi, kesan pertama di Mesir, saya ingat negara India, negara yang pernah saya kunjungi pada Oktober 2012 tahun lalu. Sampah di jalanan sudah menjadi sahabat warga sekitarnya, miris sekali. 

Sebelumnya tak terbayang Mesir akan sekotor yang saya lihat. Jadi ingat  Zuhaeri Misrawi salah satu 

orang terdekat Taufik Kiemas, juga alumni Univ. Al Azhar Mesir, ketika berkunjung ke Teheran dua bulan yang lalu. Ia kaget sekali melihat Teheran yang bersih dan modern. Ini jauh dari Mesir, kumuh dan kotor, begitu selorohnya.

Saya kaget tak percaya. Sampai akhirnya sekarang saya membuktikannya sendiri. Parahnya mesjid- mesjid yang bagus arsitekturnya itu, juga kuburan para wali sekaliber Imam Syafii (Tokoh Mazhab Imam Syafii yang mayoritas dianut di Indonesia) atau Imam Busyiri (pencipta Kasidah Burdah) yang saya kunjungi beberapa hari yang lalu, jauh dari perkiraan, sampah di mana mana, dan tempatnya sangat jorok sekali. 

Semoga Pemerintah Mesir bisa menanggapinya. Prihatin dan miris sekali melihatnya.

Mursi diturunkan, ketika itu pula saya sedang mengantri masuk ke pesawat dari Imam Khomeini Airport Teheran Iran menuju Doha - Kairo Mesir. Teman dekat saya mengirimkan sms yang berisi: "Tolong sampaikan salam saya kepada Mursi yang baru saja diturunkan."

Duh, tertegun saya baca SMS itu, padahal saya selalu update berita tentang Mesir, ketinggalan juga.

Ya malam itu: 3 Juli 2013 waktu Teheran.

Tertegun ketika pertama kali menginjakkan kaki di Cairo Airport Mesir, sebuah ayat suci Alquran terpampang jelas di atas pintu gerbang masuk Airport, yang artinya: "Ya Tuhan, Jadikanlah negeri ini negeri yang aman."

Semoga doa itu cepat menjadi kenyataan. Mesir kembali menjadi negara yang aman (baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur).

Demonstrasi- demonstrasi cepat selesai dan tidak ada lagi pertumpahan darah. 

Sebagai orang yang baru datang ke Kairo, merasakan sekali bagaimana hingar bingar pendemo yang menuntut keadilan. Mengganggu masyarakat sekitar, karena jalanan banyak yang ditutup sehingga angkutan umum banyak yang tidak beroperasi lagi. Masyarakat ketakutan dan perekonomian pun tidak berjalan sebagaimana mestinya. 

Kasihan masyarakat Mesir yang kebanyakan kelas menengah ke bawah. Saya pandangin para pedagang di sekitar komplek Pyramid. Sungguh sepi dari pengunjung, para penjual jasa angkutan kuda dan unta, begitupun para pengemis di jalan ataupun di sekitar Mesjid dan kuburan wali. 

Sungguh mereka semua berharap keamanan negeri ini segera pulih kembali.

"Di Kairo saya menemukan kembali gairah menulis, di antaranya karena bertemu dengan Teh Pipiet Senja," tulis saya di Kompasiana.

Kebetulan acara Teh Pipiet dan acara saya dijadikan satu, karena keamanan Kairo yang makin bergolak. 

Terus terang, saya baru bertatap muka dengan beliau. Penampilannya yang sederhana membuat saya tak percaya, serius ini Pipiet Senja?

Saya semakin kagum dibuatnya, ketika dia cerita tentang kisah hidupnya.

Apalagi setelah membaca memoarnya; Dalam Semesta Cinta.  Bertambahlah kekaguman saya.

Alhamdulillah saya menemukan kembali ruh menulis di Kairo. Apalagi Teh Pipiet sekarang terus meneror, supaya terus menulis di Kompasiana. Makanya ini langsung tulis pengalaman di Mesir, khusus untuk Kompasianers.

Saya juga bertemu dengan DR. Musthafa Abd. Rahman, wartawan Kompas khusus untuk Timur Tengah. Wah, makin tambah lagi deh semangat menulis.

Selain tokoh tokoh tersebut yang menjadi inspirasi saya, untuk bangkit menjadi lebih baik lagi adalah Alexander the Great. Diakui sebagai salah seorang pemimpin militer paling jenius sepanjang zaman. Ia juga menjadi inspirasi bagi penakluk-penakluk seperti Hannibal, Pompey dan Caesar dari Romawi, dan Napoleon. 

Dalam masa pemerintahannya yang singkat, Alexander mampu menjadikan Makedonia sebagai salah satu kekaisaran terbesar di dunia. Dalam jangka perjalanan kariernya, Alexander mendirikan lebih dari dua puluh satu kota baru. Yang paling masyhur dari semua itu adalah Alexandria (Iskandariah) di Mesir. 

Dalam tempo cepat menjadi kota terkemuka di dunia, merupakan pusat budaya dan pendidikan yang kesohor. -diambil dari beberapa sumber-)

Baru kemarin saya mengunjungi kota Alexandria atau Iskandariah bahasa Mesirnya, dan mengunjungi Perpustakaan Alexandria yang pernah menjadi perpustakaan terbesar di Dunia.

Patung dan penjelasan siapa Alexander The Great pun ada dituliskan. Sayang sekali karena waktu yang tidak memungkinkan, kami tidak bisa mengunjungi makamnya.

Memang, seorang sosok atau figur mampu menciptakan perubahan. Saya jadi teringat Teori Great Individuals tentang manusia manusia besar yang mengubah sejarah, dikemukakan oleh beberapa orang, di antaranya Thomas Carlyle, penulis buku On Heroes, Hero-Worship yang menyatakan bahwa sejarah adalah biografi manusia hebat (history of the world is the biography of the great man).

Jadi manusia hebat seperti percikan api yang membakar kayu bakar kemudian meledak, dan mengubah sejarah dalam waktu yang singkat. Hal ini dialami sendiri, ketika bertemu dan mengenal mereka di Kairo Mesir.

Terima kasih untuk semua, saya telah bangkit. Saya punya semangat baru untuk mencapai cita-cita dan impian di masa yang akan datang.


Cairo, 2013

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama