Inilah Aku dan Diriku Masih Hidup!



                                                   Islamic Book Fair: Stan Penerbit Luxima

        
Backcover
Di luar banjir mulai surut, tapi di sini, di kamar sewa ukuran tiga kali tiga ada yang terus menggelombang dahsyat. Gelombang lapar dan lelah yang bisa membuat semua penghuninya frustasi. Dadaku mulai berdebar, tapi kutahankan untuk tidak terpengaruh.

Jari-jemariku, pikiran dan perasaanku masih berkutat pada akhir cerita sebuah keluarga yang berbahagia. Kuhentikan berjibaku dengan mesin ketikku, kulirik belahan jiwaku yang senantiasa mengobarkan semangat hidupku. Ya Allah, ada apa dengan dia? Anak itu, buah hatiku tercinta tampak menekuk kedua lututnya, buku kesayangannya sudah lepas dari tangannya, mengambang di permukaan air yang menggenang di lantai.

“Pipiet Senja adalah penulis sejati. Dia begitu istiqomah menulis. Saya kagum dengan enerji berkaryanya, dan semangatnya memotivasi generasi muda untuk menulis.” (Habiburrahman El Shirazy, Sastrawan dan Sutradara Film)

“Seorang penulis yang tak pernah lelah berkarya. Bahkan penyakit abadinya pun tak mampu menaklukkannya. Saya belajar banyak dan mengambil inspirasi dari kegigihannya.” (Irwan Kelana, penulis, wartawan HU. Republika)

“Menyandang penyakit abadinya malah menjadikan Pipiet Senja terus hidup dengan tegar. Novel-novelnya menjadi cermin sekaligus penyemangat buat pembacanya. Dia inspirator bagi saya.” (Gola Gong, novelis, pengelola Rumah Dunia, Serang)

“Barangkali, ketegaran akan berbalut dengan keikhlasan. Barangkali, kekuatan akan berbalut dengan keberanian. Dan barangkali, airmata akan berbalut dengan cinta kasih. Pipiet Senja telah membalut semuanya dalam semesta kisah yang dituliskannya melalui pena jiwa ksatria. Sebuah pembelajaran hidup yang sarat makna.” (Fahri Asiza, sahabat kasih perjalanan Pipiet Senja)

“Kemampuan Pipiet Senja untuk menulis sulit kita bantah. Kita tidak meragukan lagi. Buku yang sedang Anda baca sekarang ini merupakan salah satu buktinya. Inilah Saatnya Merevolusi Diri!” (Fauzil Adhim, penulis buku bestseller Indahnya Pernikahan Dini, Yogyakarta)

“Kalau saja kita bisa mengintip isi otak Pipiet Senja, barangkali isinya kata-kata banyak buangeeettt! Semangat terus, Teteh, sampai akhir hayat. Luv U!” (Anneke Puteri, artis, penyair, penggiat Klinik Akting, Cibubur)

“Teh Pipiet Senja bagiku benar-benar sosok kehidupan. Tak ada teori saat bersamanya yang ada hanya melakukan sesuatu yang tak terhindarkan. Siapapun bisa belajar dari sosoknya, apalagi dengan membaca memoarnya.” (M.Irfan Hidayatullah, penulis, dosen UNPAD)

“Seorang penulis yang tak pernah lelah berkarya. Bahkan penyakit abadinya pun tak mampu menaklukkannya. Saya belajar banyak dan mengambil inspirasi dari kegigihannya.” (Irwan Kelana, penulis, wartawan HU. Republika)

      Poliklinik Hematologi; sedang ditransfusi alias ngedrakuli



“Nyokap gw tuh yak, uhuy deh! Perkasa banget urusan cari nafkah buat anak. Nyokap gw juga unik, lucu, suka ngocol, junkies, funky but syar’i. Shhh, nyokap gw tuh gak ada duanya, pendeknya hihuhihu deh, ah!” (Adzimattinur Siregar, putrinya, alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia)

“Mama tipe ibu yang tua di jalan. Kemaren di Mesir, sekarang di Aceh, besok di Bima, lusa tahu-tahu sudah ngejoprak di UGD. Malam depan laptop, subuh depan laptop, siang dan sore kembali ke laptop juga. Hehe! Teknik paksaan Mama: kalau disuruh gak dilaksanakan, neror terus jutaan kali. Sori Mom, Luv U so much, mmhuah!” (Haekal Siregar, putranya, alumni Pascasarjana IT Universitas Indonesia)

“Ibu mertuaku baik hatinya suka kebangetan. Hobinya memberi apapun yang dia punya, termasuk baju yang cuma beberapa biji. Saking kebelet ngasih, gak jarang barang milik anak-menantu dikasihin juga. Hihi.” (Seli Siti Sholihat, menantu, alumni Fakultas MIPA Universitas Indonesia)

“Airmata mengalir ketika kita mencoba menyelami perjalanan hidupnya. Namun bagi saya tak sekedar airmata. Ketegaran, kesabaran, daya juangnya telah memberi berjuta lecutan dan menjelmakan samudra cinta.” (M. Muttaqwiati, penulis, daiyah, Brebes)

“Sosok ini simbol kreativitas sekaligus ketegaran. Keterbatasan fisik adalah hal remeh untuk para pejuang. Pipiet Senja dengan penanya telah membuktikan.” (Afifah Afra, penulis, pengusaha penerbit Indiva, Solo)

“Membaca karya Pipiet Senja seperti menikmati ramuan terbuat dari tawa dan airmata, membuat kita larut dalam suka-duka dunia perempuan Indonesia.” (Kono Nata Kusuma, penulis, mahasiswa Psikologi Universitas Indonesia)

“Perempuan yang ceria dan penuh semangat hidup.  Perempuan yang kokoh dan tegar menjalani kehidupan, ibu yang tidak pernah menyapih kasih sayang untuk anak-anaknya, nenek yang lucu untuk cucu tercinta. Susunan kata-katanya seperti rona merah kegembiraan di antara mendung hitam kehidupannya. Bravo, Pipiet Senja!” (Bahril Hidayat, penulis Trilogi Memoar Gilakah Aku, Pekanbaru)

“Pipiet Senja ibarat ibu kedua bagiku. Dia berperan besar dalam pengembangan karierku di bidang menulis. Support-nya itu loh, sungguh rrruuuaaaar biasa! Membaca karya-karyanya membuat kita terinspirasi juga gregetan; iiih, si Teteh plis deh, pasrah banget sih digituin, hehe!” (Laura Khalida, penulis buku Minder Itu Nikmat, Lho, Depok)

“Pipiet Senja perempuan kuat yang selalu bersahaja untuk menghasilkan karya. Karya-karyanya selalu menyentuh sisi kehidupan perempuan, sehingga terasa amat dekat dengan kehidupan kita.” (Ali Muakhir, peraih Anugerah Adikarya IKAPI 2007, Bandung)

 “Nama Pipiet Senja kerap terdengar sejak saya kecil, sampai suatu ketika ditakdirkan mengenalnya lebih dekat. Semangat nulisnya itu loh, mantap! Satu hal yang bisa saya katakan tentang dirinya, tak pernah berhenti berkarya di ujung usia.” Cut Januarita, pendidik, Forum Lingkar Pena Nangroe Aceh Darussalam)

“Pipiet Senja seorang perempuan yang konsisten dengan kesederhanaan, baik dalam kehidupan maupun karya-karyanya. Namun, siapa yang bisa menampik bahwa di balik kesederhanaan itu tersimpan suatu kekuatan maha?” Teddy SNADA, penyair, munsyid, Pondok Cabe)

“Saya menemukan keteguhan sekaligus kelembutan yang patut menjadi contoh. Setiap kata yang ditulisnya sarat dengan Emakna yang tulus, hanya bisa keluar dari hati yang tulus pula.“(Arul Khan, penulis dan pengelola www.menulisyuk.com)

“Bagiku, Pipiet Senja adalah teladan nyata akan kesemangatan untuk bertahan hidup, ketawakalan luar biasa, ketiadaan rasa putuas asa menghadapi sakit yang belum ada obatnya kecuali ditransfusi. Dan ketegaran tiada banding menghadapi maut. Ia tetap terus memberi dan memberi untuk bangsa ini. Masya Allahu Robbi!” (Awy’ Ameer Qolawun, Aktivis FLp Saudi Arabia)

“Semasa remaja, saya membayangkan seorang perempuan sedang menatap serombongan burung pipit yang pulang ke sarang kala senja. Terbetik dalam benak, mengapa ia tak memilih jatuh cinta pada bunga, pelangi atau warna merah jambu. Sesuatu yang seharusnya mencerminkan bahagia bagi seorang perempuan. Kelak barulah saya tahu setelah mengenalnya lebih akrab. Pipiet Senja adalah pantulan dari jiwa burung-burung kecil itu. Pikiran, pergulatan hidup, dan keinginannya untuk jujur menghadapi kehidupan, tak ubahnya seperti burung pipit yang lebih memilih alam ketimbang sangkar emas. Dalam Semesta Cinta, Pipiet Senja kembali mengukir napas yang sama. Ia menelusuri kembali lembaran masa silam, merasakan lagi setiap tikaman duka, cercahan bahagia, dan menuliskannya. Bukan untuk mengutuk atau menyesali. Semata hanya untuk berbagi bahwa hidup bukan selamanya pelangi.” (Julie Nava, penulis, personal branding planner, tinggal di Michigan, AS)

“Dari karya-karyanya saya belajar bagaimana menjadi tegar. Pipiet Senja sungguh pengisah sejati sekaligus inspirator saya dalam menulis. Semangatnya dalam berbagi ilmu dengan penulis pemula sangat mengagumkan. Patutlah dia digelari Teroris, tukang neror menulis, dan emaknya kaum BMI.” (Siti Allie, penulis, Ketua Forum Lingkar Pena Taiwan)

“Pipiet Senja bak malaikat bumi yang dikirim-Nya untukku. Darinya aku belajar memaknai ketegaran dan ketangguhan seorang muslimah. Darinya aku belajar kesabaran, keikhlasan, ketabahan dari segala bentuk ujian yang diberikan Allah Swt. Aku pun belajar darinya untuk memaafkan segala bentuk kezaliman yang menimpa diri. Teteh wanita tegar yang tak pernah lelah menyuntikkan semangat kepadaku untuk terus menulis dan berkarya. Sungguh, terimakasih, Teteh, aku mencintaimu karena Allah!” (Ida Raihan, purna BMI Hong Kong, penulis novel Cintaku di Negeri Jackie Chan)

“Aku dan kawan-kawan BMI Taiwan, suka memanggilnya Manini. Tidak perlu lagi diragukan karyanya. Kalau belum ketemu, pasti mengira masih muda, karena bahasanya yang fresh, gaul dan selalu update. Sukses selalu untuk Manini!” (Ryan Ferdian Lau, singer, penulis, BMI Taiwan)

“Thank’s a lot to Pipiet Senja, engkau datang di saat diriku merasa down, terpuruk. Berkat teror semangat menulis darimu, akhirnya aku berani juga mengirimkan cerpen ke Bilik Sastra VOI RRI, dan engkau membincangnya dengan manis. Luv U so much, emchuuuah!” (NH.Lulu, BMI, penulis, aktivis Forum Lingkar Pena Hong Kong)

Catatan:
Terimakasih kepada Anda semua yang telah ikhlas memberikan testimoninya untuk endorse buku saya, Dalam Semesta Cinta, edisi revisi yang telah di update, untuk mengabarkan kepada dunia bahwa; "Inilah aku dan diriku masih hidup!"

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama