Mengintip Kesejahteraan Para Penambang Emas di Tembagapura


























Tembagapura, 20 November 2012

Usai mengisi pelatihan kepenulisan sepanjang hari, selama dua hari berturut-turut, saya dan Elly Lubis serta Evatya Luna mendapat kesempatan untuk wisata dan kuliner ala Tembagapura.

Anda jangan membayangkan di sini ada deretan Mall, bioskop, pasar atau tempat hiburan lainnya semacam kafe-kafe, sebagaimana di kota-kota besar lainnya di Indonesia. Suasana di Tembagapura sungguhlah berbeda dengan kota-kota besar lainnya.

Ada Hero dan sebuah bioskop, tetapi kami tidak sempat mampir ke sana. Terutama bioskopnya, masa jilbaber kaclak-kucluk ke situ, duhai; apa kata dunia?

Ada lapangan sepak bola terbuat dari permadani, bukan rumput. Ada Hospital dengan peralatan kedokteran canggih.

Di sini yang jelas tak ada warung, tempat jajanan untuk beli barang kebutuhan sehari-hari seperti gula, kopi, beras, rokok atau kerupuk.  Perusahaan Freeport mendesain kawasan para karyawannya sedemikian apik teratur dan disiplin.
13547864741774205001
Pemandangan menuju puncak gunung Tembagapura
Anak-anak kecil bisa dengan nyaman berseliweran naik sepeda, kemudian meninggalkan sepedanya begitu saja. Takkan pernah ada yang mengambilnya, percayalah!

“Karena sudah terbiasa begitu, anakku waktu pulang ke Bogor ya meninggalkan sepedanya di pinggir jalan perumahan neneknya. Dan tentu saja hilang,” kisah seorang ibu muda menahan tawa, mengingat kelakuan putra dan putrinya yang masih duduk di bangku SD.
1354786570370949721
Semuanya ini sudah disediakan, lengkap!
“Apa di sini tidak boleh buka warung, ya, Dek?” tanyaku penasaran, sebab sepanjang saya jalan-jalan di perumahan dekat Guest House 104 itu, tak tampak satu pun tempat yang bisa disebut warung.

Kalaupun ada warung yang kami temukan adalah saat berada di Kuala Kencana, dan itu bukan milik karyawan Freeport, melainkan kontraktor di luar perusahaan.

“Waduuuuh, tidak beranilah. Ada peraturannya. Keluarga karyawan Freeport dilarang berbisnis, apalagi buka warung di rumahnya,” jelasnya gamblang.”Kalau ketahuan bisa kena tuh. Dipecat!”

“Boleh dong tahu, kira-kira berapa standar gajinya?” selidikku, kian penasaran.
Mereka tampak hidup berkecukupan, apartemen yang sudah lengkap ada; televisi kabel, akses internet, telepon, sofa, lemari dan tempat tidur.

Bahkan kamar mandinya pun dilengkapi dengan bath tub porselen. Belum lagi peralatan serba canggih menghiasi dapurnya.

Ada mesin cuci besar merek terkenal, mesin cuci piring, freezer dua pintu. Pokoknya bisa digolongkan apartemen mewah, tak ubahnya apartemen-apartemen yang kulihat di Singapura atau kondominium di Hong Kong yang dihuni oleh para petinggi Bank swasta.
13547867071004428755
Guesthousenya yang standar, bukan yang bagusnya nih
“Teteh, itu gajinya seorang OB saja bisa sekitar 7 jutaan….”
“Apa?!” seruku tertahan.
“Iya, jika ditambah tunjangan perumahan, tunjangan kesehatan dan pendidikan bisa lebih banyak.”

“Kalau karyawannya, umpamanya mereka para penambangnya,” pancingku.
“Tergantung masa kerja dan keahliannya juga, Teteh. Karyawan biasa sekitar 10 atau 15 jutalah.”

“Kalau sarjananya, para pakarnya, berapa tuh?”
“Hmmm….”
“Ada dua puluh? Tiga puluh?”
“Yah, kira-kira sekitar itulah,” sahutnya tersenyum sumringah.
1354786827370080297
Diambil di waktu malam
Sahabatku ini, istri karyawan yang sudah lama masa kerjanya, 25 tahun. Dia memiliki anak lima, jika telah lulus SMP, semuanya dialihkan pendidikan mereka ke Jawa. Ada yang kuliah di UGM, UI dan UNDIP dan satu di boardingschool terkenal di Jakarta.

Nah, bisa dibayangkan berapa total dana pendidikan anak-anak yang harus dikeluarkannya setiap bulan. Dan dia ternyata mampu, sangat mampu. Terbukti sudah pergi haji dan umroh bersama keluarga.

“Jadi, kalian di rumah tingga dengan si adek kecil ini, ya?” tanyaku, menjawil seorang Balita yang baru duduk di bangku Taman Kanak-Kanak.

“Iya, Teteh, kami tinggal bertiga saja nih. Si kecil ini tanpa diduga muncul ketika kami memutuskan; cukuplah dengan empat anak. Hehe.”

Kami, saya, Evatya Luna dan Elly Lubis ada beberapa kali makan pagi dan siang di resto karyawan. Pagi sekali, pukul lima, sudah buka. Para karyawan sudah memenuhi ruangan yang harum dengan berbagai menu masakan.

Ada makanan Eropa, roti dengan berbagai bumbu dan salad penuh mayonaise. Masakan Nusantara pun tersedia; nasi goreng, soto, sop dan berbagai lauk lainnya.
13547869541585849842
Bunga yang indah bertebaran di pinggir jalan dengan asrinya, edelweis pun bertebaran.
Kami bisa masuk dengan menunjukkan kartu Visitor, Jika tidak memiliki kartu Visitor siapapun tidak bisa memasuki kawasan Tembagapura.

Kami pun menikmati sarapan pagi itu dengan nyaman dan nikmat. Kukitarkan pandangan ke sekeliling kami. Para karyawan ternyata bukan terdiri dari kaum lelaki.

Banyak juga karyawatinya alias makhluk-makhluk bejenis perempuan. Mereka tampak tangguh dan kuat.
Kami jumpa dengan beberapa alumni Fakultas Teknik Mesin Universitas Indonesia.

“Naaaah! Muridnya besanku agaknya, ya? Kenal dengan Pak Engkos Kosasih, iyakah?” tanyaku kepada Dicky.

“Iya, Bun, beliau dosen saya,” sahut anak muda sebaya putriku itu, tertawa senang. Seolah-olah telah bertemu dengan orang sekampung laiknya.

“Pssst, lihat, Bun. Piring kotornya harus diangkut sendiri ke s ana tuh,” bisik Evatya Luna, menuding ke sudut ruangan. Benar, mereka yang sudah selesai makan harus mengangkut piring dan gelas kotor ke tempat itu.

Syafii terapis pijat refleksi, pemandu yang sangat baik hati; terimakasih!

Seorang anak muda dibantu seorang kawannya, menerima piring dan gelas kami sambil tersenyum. “Parantos, Ibu, tuangna?”

“Euleuh-euleuh urang Sunda, nya?” kataku senang.
“Muhun, Bu, ti Tasik.”

“Sama dong dengan Rhoma Irama,” kataku sambil mengucapkan terima kasih. Kami pun melanjutkan perjalanan, hendak dibawa keliling oleh Syafii, pemandu kami yang sangat baik hati dan pandai terapis pijat refleksi.





Mereka memang hidup sejahtera di sini, pikirku. Semoga membawa kebaikan pula untuk warga asli Tembagapura, seperti suku Banti yang berada di bagian atas pegunungan.

Menurut hasil interviu dengan beberapa petingginya, sekarang warga Papua asli yang direkrut menjadi karyawan dari tahun ke tahun semakin meningkat prosentasenya.

Warga asing seperti dari Australia semakin sedikit, mereka banyak yang memutuskan kembali ke negerinya. Demikian pula para pendatangnya mengalami penurunan.(Tembagapura, Pipiet Senja)





















2 Komentar

  1. senengnya bisa dadat informasi tentang tembagapura, walapun saya disorong papua barat belum pernah menginjakkan kaki kesana

    BalasHapus
  2. senengnya bisa dadat informasi tentang tembagapura, walapun saya disorong papua barat belum pernah menginjakkan kaki kesana

    BalasHapus

Posting Komentar

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama