Kopdaran di Negeri Singa: Mela Come On, Kadieu!



Singapura, Selasa, 24 Januari 2006
Dinihari, seperti kebiasaanku dimana pun daku berada, niscaya daku sudah bergerak untuk bangun. Solat, kemudian langsung mengendap-endap cari kompinya Neng Febi.

Ini makhluk bernama pena Pipiet Senja di mana pun berada, memang hobi nian ngegeratakin rumah orang, gentayangan kesana kemari. Kalau bukan sesama FLp yang notabene selalu memegang teguh ukhuwah Islamiyah. Orang macam daku ini sudah lama dikucilkan ‘kali yah?

Subuh di Singapura telah lewat, daku kembali menulis, sekaligus cetingan dengan adikku di Holland. Ini masih dalam rangka memperkuat ketawakalannya sebagai seorang mualaf. Kudoakan selalu dikau, Dek!

Tampak kemudian Febi pun bangun, langsung sibuk membuatkan sarapan untuk keluarganya plus seorang tamu yang hobi gentayangan. Sesungguhnya Nida sudah mendahului dengan mengintipku dari celah pintu kamarnya. Tapi dia masuk kembali dengan malu-malu. Hihi, lucu nian nih anak gadisnya Febi!

Mas Indra, suaminya Febi yang ganteng itu sudah sarapan, dan aku menyempatkan meminta maaf. Karena telah mengintervensi kompinya yang online senantiasa.
“Oh, ya silakan saja, Teteh. Gak apa-apa,” berkata alumnus ITB itu dengan santunnya, aku jadi malu diri.

Beberapa hari menginap di rumah pasangan muda ini, ternyata banyak hal yang bisa kupetik dan ini sebagai pembelajaran bagi diriku sendiri.

Tahukah, Sodara. Sebelum aku mengenal pasangan HTR-Tomy, Asma Nadia-Isa, dalam benakku sempat terpeta suatu asumsi; bahwa lelaki itu sama saja kelakuannya seperti bapak si Butet. Hehehe, dasar oon amat daku, yah?

Nah, lihatlah, gaya keluarga kecil itu saat mengantar kepala keluarga untuk bekerja.
“Selamat jalan Abi….”
“Hati-hati di jalan…”
Cium tangan dengan mesra, antara istri dengan suami, kemudian antara anak dengan abinya. Duhai, indahnya sebuah pernikahan yang Samara dan barokah, ini istilahnya Fauzil Adhim.

“Nah, Neng Febi,” kataku setelah berkemas dan siap keluyuran. “Teteh kan sudah janjian dengan Mela, mau kopdaran. Terus, semalam sudah janji juga kepada diri sendiri, mau jalan sendirian di Negeri Singa ini. Jadi, biarkan daku pergi, yah? Ini kuminta saja rute bisnya, SBS….”

“Tapi beneran yah, Teteh sayang, jangan lupa Febi ditelepon kalau ada apa-apa.” Febi nampak dengan berat hati melepasku jua. Diberikannya ponsel, e-link, kartu bisnya dan secarik kertas print out rute SBS.

“Dadah Nida sayang, doakan Uwak biar gak nyasar, yah,” kucium dan kuusap kepala Nida.
Kurasai pandangan ibu dan anak itu masih mengiringi punggungku, bahkan meskipun aku sudah turun ke lantai sembilan. Karena rumah Febi di lantai sepuluh, sementara lifnya sampai lantai sembilan, maka aku harus jalan dulu.

Begitu turun, kok langkahku malah berlanjut ke lantai delapan. Ha? Di mana ini, gumamku begitu menyadari mulai nyasar. Wuih, ini kok bukan jalan yang baik dan benar, ya?

“Gokil aming nih Mama, Tet. Belum apa-apa udah nyasar,” umpatku dalam hati, menyesali kebodohanku, jadi menyeru nama putriku yang dimintai oleh-oleh gelang giok.
Hampir saja menelepon Febi, tapi, dih, dih; malu daku!

Beberapa saat hatiku labil, antara mau menelepon Febi dengan rasa malu daku. Gede rumasa juga nih diriku, ternyata, ops!
Jadi celingak-celinguk saja di lorong waktu, ups, lorong apartemen Bedok Reservoir Rd Blok 213 itu. Pake ada acara hitung bunyi tokek pula tuh!

Telepon jangan yah, telepon jangan yah?
Maluuu tauuuk, maluuuu!

Ndilalah, kebetulan sekali kunampak adalah itu seorang engkoh-engkoh yang baru pulang belanja dari pasar Sheng Shion. Nah, maka ke arah bekas jalur engkoh berkaki sengkang itulah aku bergegas menuju lift.

Benar saja, maka jleb saja, masuk sendirian, lift pun dalam sekejap sudah tiba di lantai dasar. Menunggu SBS beberapa menit, datanglah bus yang bagus dan bertingkat pula. Sek, geseeek saja kartu bisku kugesekkan ke mesin yang akan bereaksi; tuiiing, kayak bunyi YM masuk begitulah.

Aku pun duduk tak jauh dari sopir, kayaknya jadi ingat lagu anak-anak zaman dahulu kala; Kududuk di samping pak kusir yang baik hatinya, taktiktuktaktiktuk. Rasanya begitulah bunyinya.

Sebagai perintang waktu, sengaja aku tak bawa buku apapun, karena memang ingin kucermati segalanya dari sudut pandang seorang anak bangsa Indonesia. Mulailah kubaca berbagai hal di sekitarku. Nah, seperti ada tulisan ini: Please Ofter This Seat To Someone Who Needs it More Than You Do.

Himbauan itu tertulis di setiap bus SBS di dekat kaki kita atau di atas pintu. Dan mereka, warga Singapura dengan patuh memegang teguh peraturan ini. Soalnya, di sini ditegakkan hukum dengan sangat baiknya.

Dijamin tak adalah itu yang berani melanggar aturan. Umpamanya, makan dan minum di bis, apalagi merokok.  Bahkan anak-anak kecil pun memegang teguh peraturan ini.
“Seribu dolar Singapura dendanya, Bu,” aku jadi ingat perkataan besanku, keduanya pernah tinggal di Singapura dalam rangka penyusunan thesis S3-nya tahun lalu.

“Hmmm, ada apa dengan masyarakat di Jakarta, di Depok, di Cimahi, ya?” pikiran itu seketika melintas begitu saja di kepalaku. “Mereka yang notabene banyak juga noninya, kok jadi lebih Islam daripada bangsaku yang banyak muslimnya?”
“Niscaya ada yang keliru di masyarakat kita, bangsaku dan aparat kita bisa seperti di sini?”

Duh, mulai kacau otakku. Bukannya hepi-hepi sajalah, malah membanding-bandingkan, jadi pening kepalaku. Siapa yang mau tanggung jawab, coba?

Tujuanku ke Orchard Rd yang ada Lucky Plaza-nya. Ternyata jauh juga tuh yang namanya Orchard Rd. Ya, aku memang sudah janjian dengan Karmela, orang Cimahi yang sudah lama tinggal di Batam dan Singapura. Maklum, suaminya bekerja di perusahaan minyak asing.

Neng Mela, Come On, Kadieu!
Ceritanya aku sudah turun di halte bis yang diberi nama Orchard Boulevard di seberang gedung bertingkat, Parksuites. Kalau tak salah ada nomernya nih halte B02. Soalnya suka lupa-lupa ingat otak daku, menjelang usiaku ke-49 bulan Mei 2006.

“Neng Mela di mana yah? Teteh sudah di halte bis nih.” Kulayangkan SMS buat Karmela yang maunya dipanggil Mela saja.

Sedetik kemudian ada yang telepon. “Mela ada di Lucky Plaza, Teteh, di Orchard Rd.” Suara Mela sangat jelas, tapi tiba-tiba ponsel Febi yang dipinjamkan kepadaku mati.
Febi memang pernah bilang, “Ponselnya murahan Teteh, jadi jangan heran yah kalau sering mati mendadak….”

“Berapa harganya?” tanyaku penasaran.
Bentuknya bagus, mereknya Siemens. Macam ponsel milikku yang dibelikan Butet ketika aku akan ke Mesir.

“Murah Teteh cuma sekitar 40 ribuan, tapi di sini pake sistem kontrak per tahun. Jadi yang mahal kontraknya itu,” jelas Febi.
“Kayak Fleksinya di Indonesia ‘kali yah…” Febi mengangguk.

Beberapa saat aku celingukan, mencari-cari sosok Mela, kutahu pasti mudah dikenali. Karena Mela bertubuh subur dan wajahnya khas Sunda, mojang Parahiyangan.

Mela belum menghubungi lagi, sementara ponselnya semakin mati-hidup-mati-hidup. Mati segan hidup pun ogah. Hehehe, emang bener kan begitu, yah, Neng Febi? Kucari kacamataku dan sebelum kelar kupasang kacamata itu, eh, maot deui tah ponsel si Eneng. Menanti dulu beberapa menit, sabar, sabar.

“Wooi, Mela, sabar yah!” Seruku dalam hati.
Akhirnya tersambung kembali, “Teteh lihat ada gedung apa di depannya?” seru Mela.
“Sebentar ya, mesti pake kacamata dulu. Nah, oke. Namanya Parksuites, iya kayaknya begitu, kalau gak salah yah benar sajalah.”
Duh, mengapa jadi pabaliut begini omonganku?

“Kalau begitu Teteh tinggal nyeberang saja. Ada gedung Wisma Atria. Nah, sebenarnya dari situ Mela sudah bisa kelihatan tuh sama Teteh.”
“Oke, kucoba jalan yah.” Kliiik!

Aku pun menyeberang dengan sangat hati-hati. Khawatir ada larangan tak boleh menyeberang. Tapi di sini kendaraan jarang sekali. Jadi aku bisa nyelengceng alias ngacir atau lari cepat saja, ops!

 “Nah, sekarang aku sudah ada di Wisma Atria. Dikau teh di mana atuh Neng Mela?”
“Hihi, bentar, bentar ya Teteh sayangku, sabar. Nanti juga kita akan ketemu,” suara Mela renyah dan sarat canda, seakan-akan kami telah lama berkarib ria.
Persis, khas mojang Sunda!

“Iya, kita teh meni siga anu ngedate atuh, nya?” kataku jadi geli sendiri.
Ponsel Febi kembali game over!

Jadi aku cermati saja orang-orang yang datang dari arah depan. Secara logika sesungguhnya mengherankan. Lha wong, tadi Mela bilang bisa melihatku kalau sudah di sini. Masa iya coba, Mela ujug-ujug datang dari arah tempatku semula?

Tapi mana kupikirkan hal begini? Aku mulai was-was, bayangkan saja, tanpa ponsel dan uang yang cukup. Kalaupun pegang duit, kebanyakan via mesin ongkosnya, dan bahasa Inggris daku payah nian.

Maka, karuan jantungku mulai; degdegplas, degdegplas, hadeuh!
Segala macam lakon di film-film petualangan di negeri orang mendadak berkeliaran di otakku. Ajaibnya lakon yang serem-serem, diculik, dibunuh, dihilangkan. Alamak!
Janganlah kejadian tragedi  begitu, kasihan si Butet masih butuh emaknya ini. Meskipun seringkali gelow, luthuna abiz, kan gini-gini juga daku suka dirinduinya. Hehe.

Nah, ini dia malangnya jadi seorang pengarang. Segalanya suka kontan dikaitkan dengan imajinasi liar di otak kita!

Tiba-tiba kunampak ada seorang perempuan bertubuh subur, menuntun seorang anak laki-laki. Nah, itu dia, pasti Mela, bisikku girang. Saking girangnya maka spontan mulutku berseru-seru, heboh pula!

“Neng Mela… Come on, eh, ka dieu!”
Aku melambai-lambaikan tangan, bahkan agak berjingkrak begitu. Iiih, ini beneran saking girangnya. Akhirnya kutemukan juga Sang Juragan yang bersuara nyaring di pantai Siloso itu.

Nah, perempuan itu semakin dekat, semakin dekat ke arahku. Ajaib banget, masa iya sih Neng Mela alumnus UK, pakai daster? Ha, apa-apaan nih? Ternyata bukan Neng Mela geuningan!
Ini seorang cokim, eh, encim-encim. Pantesan dasteran juga, rumahnya dekat kali. Malu daku, buru-buru ngacir ke lain tempat. Karuan encim-encim itu sempat mendelik keheranan ke arahku.

Sori, Cim, punten pisan. Kamsiah, hayaaa!
Maka aku pun kembali celingukan dan lebih focus lagi mencari bayangan Mela.
“Teteh masuk aja ke jalan di sebelah gedung itu,” petunjuk Mela kemudian datang, masih via ponsel.

“Oke…aduh, barusan daku salah orang!” seruku.
Kunampak sosok Mela bersama anak laki-lakinya. Adam yang ganteng mirip Arab (kecuali hidungnya, hihi) sedang menertawaiku dari kejauhan.

Ada jalan membentang yang harus kuseberangi lagi. Kunampak banyak orang yang menyeberang dengan leluasa, malah abring-abringan. Jadi, kali ini pun daku; zhieng!
Aku pun mencelat menyeberangi jalan.

“Kalau ada kamera atau polisi,100 dolar didendanya, Teteh,” kata Mela melotot, begitu aku tiba di hadapannya.
“Haaaa? Aduh, bagaimana atuh, apa aku balik lagi nih?”
Hadeuh, kalau panik makin kacau nih logika.
“Iiiih, si Teteh mah! Mereka turis, sudahlah, pokoknya sekarang sudah selamat.”

“Ustadz Fauzil dengan istrinya mau gabung ke sini nanti,” kataku dan aku ceritakan sebagian lakon tadi.
“Iiih… Teteh, Teteeeh….” Mela ketawa terbahak-bahak. “Sakit perut nih, Teteh, hadeuh, meuni siga Nyi Iteung pisan atuh!”
“Iyah, da apan sayah mah turunan Nyi Iteung asli loh. Hihi. Bisa jadi cerpen nih.” Aku garuk-garuk kepala yang tertutup jilbab.

Kalau tidak mendengar suara Adam, sepertinya kami berdua akan terus saja melanjutkan ketawa-ketiwi.
“Lapaaar, Mama,” rengek Adam, anaknya yang berumur empat tahun dan baru dijemput sekolah.

“Oke, kita makan dulu ya di Es Teler 77 mejeng dengan megahnya. Lengkap dengan para pelayan berbahasa Indonesia.

Beberapa saat kami menikmati hidangan. Aku pesan sop buntut, nasi putih dan es teh manis. Mela memesankan mie ayam buat putranya. Sementara aku masih teringat kasus formalin yang menggegerkan masyarakat Indonesia. Jadi, sampai detik ini aku masih menghindari segala macam mie ayam.

Di Lucky Plaza inilah, beberapa saat kemudian setelah kami bertemu, kudengar Fauzil Adhim mengalami kejadian tak menyenangkan. Agaknya ada modus operandi yang mirip, seperti juga sebelumnya dialami teman di Simlim, pusat perbelanjaan elektronik.

Ketika kita sudah menyetujui harga dan barang yang mirip dibeli, tiba-tiba pedagang memaksakan kehendaknya, menyodorkan barang lain dengan promo gede-gedean. Berkata demikian sambil menjelek-jelekkan barang yang sudah kita pilih. Secara terus-menerus pedagang memaksakan kehendaknya. Sehingga kita dibuatnya terteror dan terpaksa membeli barang paksaan. 

Akhirnya Mela membelikanku oleh-oleh buat Butet dan Seli berupa asesoris; gelang dan bros bermata giok, jade. Tentu saja bukan yang asli, karena yang asli ratusan dolar Singapura. Tapi ini sudah sangat bagus, hijau, kuning, pink, blue saphir, ungu, merah jade. Wuah, indah nian!

“Deuh, euleuh-euleuh, meni bageur pisan Neng Mela. Beneran ini teh buat Butet dan Seli?” Aku berdecak-decak takjub, menerima pemberian Mela.
“Iya Teteh. Sudah, masukkan kembali uangnya,” kata Mela dan kulihat ketulusan di matanya.

Dari Lucky Plaza, kami bareng Fauzil Adhim, Nana dan bayinya menuju rumah Lia di Sembawang. Kami menaiki MRT, kereta bawah tanah yang bagus dan bersih itu. Kami turun dari stasiun Sembawang. Sementara Mela dan Adam melanjutkan perjalanan ke Bukit Batok. Mela masih akan menjemput putrinya yang sedang les kesenian tradisional Sunda, Jawa.

“Jangan lupa mampir ke Depok kalau pulang, ya,” aku peluk erat-erat sosok yang baru kukenal dan sangat ramah, pengakuan dan ketulusan itu.
“Insya Allah Teteh, kalau ke Bandung mah kita pasti ketemu.”

Oke, bay-bay Mela, bay-bay Adam. Hatur nuhun pisan, pamugi Alloh masihan rezeki anu manglipet-lipet ka Mela sareng kulawargina. Terima kasih semoga Allah melimpahi Mela berlipat-lipat rezeki, demikian juga keluarganya.

@@@



0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama