Serasa Dikuntit Kuntilanak



Pipiet Senja 

Cimahi, 1964.

Telah beberapa bulan ibuku harus dirawat di RS Dustira. Keluhannya tak lain sakit kepala yang menghebat. Migrain, katanya. 


Kemarin kami sudah menjemputnya. Emak harus banyak istirahat di rumah. Selama libur aku dan adikku  bergabung dengan semua adik di Cimahi. Kami menempati rumah Emih, ibunya Bapak.


Tiap pagi aku sibuk bantu Emih, melayani para pembeli, saatnya banyak orang belanja. Ikut membungkusi, itu pun kadang masih harus diperbaiki oleh nenekku.


“Sudah, beli makanan sana,” usir Emih bila sudah tak tahan lagi dengan kelakuanku. Aku berjingkrak kegirangan, berlari menuju jongko Mih Ocah, penjual serabi.


Sebetulnya penganan yang paling kusukai adalah cendil Ceu Anik. Penganan terbuat dari sagu, dipotong kecil-kecil, warna-warni. Rasanya manis dan gunyal-ganyel di lidah. Emih akan marah kalau memergokiku makan cendil buatan Ceu Anik.


“Pake pewarna, tak bagus buat anak-anak. Nanti jadi penyakit.” Mulanya aku tak paham dengan sikap nenekku terhadap Ceu Anik.


Belakangan aku pun mulai bisa menilai. Ceu Anik kalau jualan tidak kira-kira. Dandanannya terlalu menor, erok ketat lehernya belah. Belum lagi riasan wajahnya, pipinya merah-merah macam habis digampari.


Aku akan keluyuran di sekitar pasar. Menyusuri deretan warung dan jongko sepanjang Tagog. Mengamati macam-macam dagangan dari satu jongko ke jongko lainnya. 


Umurku delapan tahun, kelas tiga SD. Aku sudah menyukai hal-hal yang biasanya luput dari pengamatan anak-anak sebayaku. Mungkin karena hobi baca, sering tualang bersama karya para penulis dunia yang kusimak.


Ibuku pernah berkata, "Kelak Tikah akan menjadi polisi perempuan. Atau tentara, eh, Kowad."

Biasanya segera dibantah ayahku. “Putrimu yang satu ini lebih berbakat menjadi wartawan.”


“Tikah!” Aku tersentak, terbirit-birit menjauhi Enjay, lelaki sakit jiwa yang suka lontang-lantung di sekitar pasar Tagog. Padahal masih asyik memperhatikan kelakuannya. Meracau riuh, senyum dan ketawa-ketiwi.


Emih melambaikan tangannya, mengawasiku dari depan jongkonya. Sudah lewat Zuhur, Emih mulai membenahi sisa dagangan. Biar gampang diangkut pulang.


“Nanti malam kita nonton sandiwara, ya Tik,” katanya sambil makan siang yang terlambat. Nasi bekal dari rumah dicampur bakso Mas Joro.

“Asyik!” Nyaris saja biji bakso loncat dari mulutku.

“Jangan ribut sama siapa-siapa. Kita pergi berdua saja.”


“Iya, janji tak bakalan bilang siapa-siapa. Apalagi si Arnie!” Adikku suka ganggu saat enak-enaknya nonton sandiwara, muncul bodor pimpinan Mang Obet, eh, malah merengek minta pulang.


Bada Ashar Bi Eem datang lewat pintu dapur.

“Taya sasaha ieu teh, Eneng Tikah?” katanya menyelidik.

“Teu aya, nuju barobo da.”


Emih cepat menggamit lengan janda itu ke biliknya. Sekilas kulihat Bi Eem memberikan sesuatu ke tangan Emih. Nenekku memeriksanya sekejap. Tanpa banyak bicara lagi menyelipkan upah ke tangan Bi Eem.


Sebuah transaksi baru saja berlangsung di depan mataku. Demikianlah nenekku. Saking hobi nonton sandiwara, bila tak punya uang, menggadaikan kain batiknya.


Kulihat Arnie masih saja main dengan boneka. Kemarin aku melemparkan si butut itu. Kesal, gara-gara benda jelek itu nyaris aku kehilangan buku kesayangan. Arnie merobek beberapa halaman untuk selimut dedenya.


“Nanti malam aku akan diajak nonton sandiwara sama Emih,” kuleletkan lidah, kugerak-gerakkan jari-jemari di sisi kedua telinga.

“Ikut!” jeritnya histeris.

“Ih, nggak boleh ikut, nggak boleh!” bantahku keras.


Si cerewet abrut-abrutan sambil teriak-teriak.

Ada yang melongok dari jendela kamar depan. Pasti tidur Bapak terganggu. Matanya merah, habis pulang konsinyir di markas tiga malam.


“Ada apa? Ribut terus anak-anak ini?” tanyanya terdengar kesal.

“Eh, ini si Arnie…,” aku tergagap ketakutan.

“Sudah anak-anak, mainnya jauh-jauh sana!” Emak juga ikut melongok dari jendela.

“Pengen ikutan nonton sandiwara!” rengek adikku mulai eksyen, mewek.


Emih muncul dari pintu dapur. Sekilas mengerlingku dengan kesal. Matanya seolah berkata, “Kamu ini tak bisa dipercaya!” Aku hanya cengengesan.


“Katanya mau nonton sandiwara Mang Obet, Mih?” tanya Bapak.

“Eh, iya, diajakin Eem.”

“Sekalian saja dibawa dua-duanya. Nanti ditambah buat jajannya,” ujar Bapak membuat kami berjingkrak, sukacita.


Bada Isya bertiga sudah siap berangkat ke gedung sandiwara. Letaknya di pusat kota, dekat alun-alun. Berjalan kaki menyusuri gang demi gang, menyeberangi jembatan kecil kali Cimahi. 


Malam Jumat banyak orang yang menonton.

Hari libur para prajurit yang sedang pendidikan. Cimahi pusat pendidikan tentara, makanya disebut Kota Hijau. 


Para prajurit biasanya jalan bareng, kostumnya sama, pet sama, perawakan mirip. Bahkan jalannya pun bak dipola, mirip.


Emih banyak kenalan di gedung sandiwara. Teteh Entin sering memberi penganan. Teteh Entin melambai ke arah kami. Lusinan permen dalam sekejap sudah memenuhi tas kecil kami. 


“Ih, barudak teh ngerakeun pisan, nya? Nuhun atuh, Nyi Entin.” Teteh Entin menolak ketika nenekku akan bayar.


Aku dan Arnie segera berlarian menuju deretan bangku paling depan.

“Lakonnya Bangkit dari Alam Kubur. Asyik, ada kuntilanaknya!” Aku menakuti adikku. 

Arnie merinding, tapi pipinya gembil penuh permen jahe.

“Ingat ya, jangan minta pulang selagi rame!”

“Teteh nggak takut sama kuntilanak?”


Arnie menatap wajahku, setelah celingukan ke sana-sini. Seolah takut ada yang mendengar omongannya.

“Ngapain takut, itu bohongan!”

“Kan ada kuntilanak!” Arnie makin merinding.

“Yang jadi kuntilanaknya juga Teteh kenal, pasti Ceu Lilis!”


Lakon sandiwara pun digelar. Baru dengar ilustrasi musiknya yang: haaauuung waaauu, waaauu. Adikku kontan menangis, bahkan kemudian jerit- jeritan segala.


“Takut, mau pulang!”

Akhirnya Emih memangku adikku dan menuntunku, balik menuju warung Teteh Entin. “Nyi Entin, tolong nitip si Tikah. Adiknya ngadat!”

Sekilas kuperhatikan adikku menyusupkan kepalanya di dada nenekku.

Tak mau diturunkan lagi. Beberapa saat aku duduk manis di bangku depan warung Teteh Entin. 

Sampai tibalah seorang lelaki berewok menyambangi. Mereka asyik ngobrol tak memedulikanku lagi. Aku pun lari, balik ke bangku depan. Menyusupkan diri di samping ibu-ibu.

Lakonnya sungguh menggelikan, menakutkan, menggemaskan. Konsepnya mirip cerita film vampir Mandarin. Komedi, laga, drama, diselipi horor.

Seorang perawan dipaksa kawin dengan saudagar gaek. Si gaek malah hobi menganiaya istrinya, Ceu Lilis. Ups, tokoh perawan itu, sampai tewas.

Puncaknya ketika kuntilanak menakuti ronda. Kelompok bodor Mang Obet, eksyen.

Ini yang paling kutunggu. Rame, heboh, pake jungkir-balik, nunggingin penonton segala. Pendeknya kenyang ketawa, diteror horor. 

Pagelaran sandiwara usai sudah. Layarnya pun diturunkan. Baru ngeh lagi, nenekku belum balik?

Aku terbawa arus manusia, terseret dan tergencet. Para penonton bak ditumpahkan dari kapal. Tahu-tahu aku sudah balik ke warung Teteh Entin. Namun, tak ada siapa-siapa. 

Saat itulah aku baru menyadari betul keadaanku. Bagaimana mau pulang? 

Bingung, nangis sajalah. Tahu-tahu aku sudah dikerumuni banyak orang.

“Nyasar, ya? Ke mana ortunya?”

“Seenaknya saja ninggalin anak! Keruan saja aku makin kebingungan dan ketakutan. Teteh Entin cepat muncul, membawaku masuk ke warungnya.

“Neng Tikah, memangnya ke mana saja? Dari tadi dicari-cari. Sudah, jangan nangis lagi. Nanti diantar pulangnya, ya?”

Tak berapa lama Emih muncul jua. Emih memilih jalan protokol. Iyalah, siapa lagi yang mau kucluk-kucluk jalan kampung? Tengah malam mesti melewati jembatan dan kali, gelap, ada pohon warudoyong. Bagaimana kalau sudah ditunggu kuntilanak?

Kuat-kuat kucekal ujung kebaya Emih. Lewat jalan protokol pun sepi dan lengang. Tak tampak sepotong manusia pun kecuali kami. Sudah lewat tengah malam. Saatnya manusia tenggelam dalam lautan mimpi. 

Semeter, dua meter, saat melintasi gerumbulan pohon beringin. “Emih, Tikah seperti lihat kuntilanak?”

“Pssst, jangan omong sembarangan. Mending baca ayat-ayat suci!” Melangkah lagi, mengintil di belakang Emih. 

Nanun, bayangan Ceu Lilis dalam kostum kuntilanak, perasaan makin banyak, makin banyak. Beterbangan ke arahku.

“Aku mau merem saja, ah!"

Tanganku kian kuat-kuat memegangi ujung kebaya Emih.

Kadang pindah mencengkeram tangannya. Beberapa meter masih berlangsung aman sampai tiba-tiba, jidat kananku menabrak tiang listrik. Braaak!

Berhenti lagi, Emih memeriksa jidatku. Diusap-usap, ditiup sedikit. 

“Sudah, nggak apa-apa. Cucu Emih Encun mah jagoan."

Baru juga beberapa meter kembali jidatku nabrak tiang listrik. Kali ini yang sebelah kanan. Aku mulai menjerit, marah dan sakit!

Emih merandek lagi, memeriksa jidatku. Kali ini sambil baca mantra segala. 

"Jangan ganggu cucuku, ini cucu buyutmu juga, Embah.”

Kalimatnya terputus oleh suara aneh, bruuuk!

Tiang kurang ajar itu lagi-lagi sukses gemilang, menghajar jidatku, total: tiga kali!

“Embung, siah! Teu sudi teuing, nyeri!”Aku nangis histeris, menggeloso di jalanan, guling-gulingan. 

Emih menyeret tanganku. Kadang tubuh kecilku diangkat, diseret, diangkat. Demikian terus menghabiskan sisa perjalanan sampai rumah.

Begitu sampai di rumah, Emih kewalahan nyaris membanting tubuhku di tengah rumah. Semua penghuni rumah menyaksikanku guling-gulingan, jerit- jerit kesakitan.

"Kalau begini lagi jangan pernah nonton sandiwara!" dengus ayahku, jelas kesal.

Beberapa waktu aku tak pernah mengintil nenekku nonton sandiwara. Nenekku juga terpaksa menghentikan hobinya.

Namun, begitu tak ada lagi yang mengingat peristiwa malam itu, aku pun kembali mengintil nenekku. Nonton sandiwaralah, Bestie. Hihi.

@@@


Note

Gunyal-ganyel: goyang lidah

Taya sasaha ieu teh, Eneng Tikah: nggak ada siapa-siapa nih, Eneng Tikah?

Teu aya, nuju barobo da: Nggak ada lagi pada tidur tuh.

Ih, barudak teh ngerakeun pisan, nya? Nuhun atuh, Nyi Entin : Iiiih…, anak-anak ini bikin malu saja, nya? Terima kasih, Ni Entin.

Abrut-abrutan: jingkrak-jingkrak

Konsinyir: piket

Embung, siah! Teu sudi teuing, nyeri!

Ogah, ogah lu! Nggak sudi, sakit!

@@@

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama