Terkenang Emak Tercinta



Pipiet Senja 

Anno, 18 Maret 2010
Melihat berita dukacita tiap hari di sekitarku, mendadak terkenang Emak tercinta.

Aku menemani Emak saat sakaratul maut. Bersamaku ada adikku Vi, Mi, Sy dan ponakan Res.

Dua adik laki-laki tidak tampak. Dy kabarnya semalaman sudah menunggu, pulang dulu. Ry masih keluyuran di Bandung, ngakunya cari ongkos.

Sepanjang jalan dari Depok ke Cimahi, banyak kenangan sukaduka bersama Emak melintas di benakku.

Saat-saat di Sumedang, ditinggal Bapak dinas ke pedalaman Sulawesi, Papua. Emak berjuang dahsyat demi memberi makan cukup untuk anak-anaknya. Sigap jualan gado-gado di teras rumah. 

Kukenang setiap kali aku ambruk di rumah sakit, Emak akan keliling ke pondok pesantren Kyai. Minta air doa untuk sulungnya ini.

Ya, Emak sangat percaya bahwa doa Ulama bisa menyembuhkan!
Ya Allah, merembes kini airmataku. Betapa kasihnya Emak kepadaku.

Ketika dokter minta izin untuk pasang sonde, aku menolak. Karena tahu persis Emak sensitif sekali urusan penggunaan alkes. Diinfus saja rewelnya luar biasa.

Aku bisikkan keputusanku di kupingnya. Emak menitikkan airmata, mengangguk samar, sambil tak lepas-lepasnya menatap wajahku. 

Seakan-akan ia masih mencemaskanku.
Satu-satunya anak Emak yang paling sering membuatnya jantungan, boleh jadi stres, setiap kali aku masuk ICU, dan dokter menyatakan tak ada harapan hidup.

Duhai, Emak, ampunilah anakmu yang belum mampu berbakti.

Sejak Emak tiada hidupku bagai rollercoaster jumpalitan.
Diundang ke Mesir dan Umroh, lantas gugat cerai. Mendadak dinyatakan DM dan jantung bengkak, menambah komorbid abadi kelainan darah bawaan.

Baik, kembali pada detik-detik Emak mengembuskan napas terakhir. Kami anak perempuan, bergantian mendampingi Emak di ruang rawat pavilyun RS Dustira.

Perawat tak mengizinkan kami berkerumun.  
Padahal hanya Emak seorang pasiennya. Sementara dokter dan perawat seliweran memantau Emak.

Menit demi menit dan jam terus bergerak. Kami mulai merasa galau. Jujur aku sungguh tak tega, Emak diperlakukan macam-macam tindakan.

Kadang diinjeksi, lalu ditekan-tekan kuat bagian dada, dipasang berbagai peralatan. 

"Teteh, itu dikumahakeun deui etah Emak?" seru My, adikku bungsu sambil bercucuran airmata.

Aku mengintip dari jendela. Dokter dibantu dua perawat sedang melakukan CPR agaknya. Seorang perawat bahkan sampai naik ke atas ranjang, mengangkangi tubuh Emak. Agar bisa menekan-nekan dadanya.

Gustiiiii Anu Agung, menjerit dalam hati. Niscaya Emak menderita sekali dengan kondisinya yang kian memburuk.

"Sudahlah, Dokter, hentikanlah. Biarkan ibu kami tenang!" ujarku akhirnya.

Dokter dan para perawat keluar ruangan.
Sekilas kulihat mata Emak membuka. 

Ya, ia seperti mencari seseorang. Sudah begini sejak 5 jam yang lalu, lapor adikku.

"Apa mungkin Emak menunggu si Ry, ya?" gumamku.
"Ini baru datang beliau!" sindir entah siapa.

Benar saja, beberapa saat hanya dalam hitungan menit. Setelah melihat anak lelaki yang baru muncul, padahal jarak Sumedang lebih dekat daripada Depok ke Cimahi.

Jika teringat bagaimana menderitanya Emak saat penantian itu, ya Allah. Dadaku serasa membuncah kembali.

Kami mentalkinnya bersama. Ry dan Di memimpin di kanan kiri Emak. Aku di kaki kanan bersama Vi.

"Laa illaha ilallah...," terus begitu dan bibir Emak tampak berkerumut, seperti berusaha mengikuti syahadat anak-anaknya.

Begitu terdengar gema azan Zuhur, ibu kami Siti Hadijah binti Wiraharja dinyatakan telah berpulang. Menemui Sang Penciptanya.

Semoga husnul khotimah dan dikumpulkan dengan Bapak kami yang telah berpulang: 4 Oktober 1991.

Al Fatihah untuk
Emak dan Bapak.
Beserta sahabat-sahabat kami yang telah berpulang.

Pipiet Senja, penulis 203 buku berbagai genre. Mukim di Depok bersama anak dan cucu. Masih berjuang dengan berbagai komplikasi.

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama