Ungu Hariku Jingga Hatiku




Ungu Hariku Jingga Hatiku
Pipiet Senja


Jakarta, Anno 1983
Keadaan pernikahan tidaklah menjadi membaik setelah ada anak. Acapkali aku menangisi anakku, apabila ayahnya tanpa tedeng aling-aling menuduhku, apa yang disebutnya sebagai; melahirkan anak di dalam rumah tanggaku.
Usia 11 bulan anakku ketika aku jatuh sakit dan tetirah di rumah orang tuaku. Ketika pulang kutemukan jejak perselingkuhan yang sangat keji kurasai, dan amat melukai hati keperempuananku. Segala respek, kepercayaan yang begitu kupertahankan atas dirinya, sekaligus senantiasa diagung-agungkan dalam setiap ucapannya; hancur dalam sekejap!
“Jangan ambil keputusan sekarang, dengarkan, dengarkan dulu pembelaanku,” dia sempat meratap, meminta maaf, tapi sama sekali tak pernah mengakui kesalahannya sebagai suatu kekhilafan.
Aku menarik kesimpulan sederhana bahwa dia melakukan semuanya itu dengan segala kesadaran, kesengajaan hanya untuk menghancurkan. Sebuah pernikahan yang memang tanpa pernah dibangun dengan tiang-tiang yang kokoh.
Pengaduan para tetangga tentang keberadaan seorang perempuan saat aku tak berada di rumah, terngiang-ngiang di telingaku. Bahkan berani-beraninya dia mengakui bahwa perempuan itu adalah adikku dari Medan.
“Ya Tuhan, sejak kapan aku dan keluargaku tinggal di Medan?” raungku hanya tertelan di tenggorokan.
Hanya satu bulan dan itupun atas izinnya aku tetirah dalam kondisi sakit, tanpa pernah dikunjungi apalagi memakai uangnya untuk pengobatanku. Tahu-tahu sudah ada perempuan lain, bahkan sebelumnya melakukan transaksi dengan berbagai perempuan nakal di kawasan Monas. Sebagaimana dia tulis dengan rinci di catatan hariannya, entah sengaja atau tidak, dia menyelipkannya di dinding kamar. Sehingga aku dengan mudah menemukannya dan membacanya dengan perasaan hancur lebur.
Tuhan memang Maha Kasih, diperlihatkannya seluruh rincian catatan harian yang sarat kejalangan, kemesuman dan kehewanannya itu. Demi Allah, dia sangat menikmatinya!
Segala perasaan sayang raib seketika, timbul kebencian dan dendam yang tak teperi, menyelimuti seluruh akal sehatku. Aku menyerahkan urusanku kepada bapakku. Aku kembali ke rumah orang tua, menyerahkan pengayoman anakku kepada mereka, bahkan bukan saja makanan, minuman melainkan juga hidup dan matiku.
Semuanya saja kuserahkan sepenuhnya, urusanku dan anakku kepada keluargaku. Bahkan aku tak tahu menahu bagaimana proses gugat cerai itu berlangsung. Tahu-tahu aku dipanggil beberapa kali ke Pengadilan Agama, tanpa dihadiri ayah anakku, kemudian divonis; talak satu.
Berbulan-bulan diriku tenggelam dalam rasa sakit, lahir dan batin, jiwa dan raga. Kubiarkan keluargaku mengurus diriku, semakin hari semakin tenggelam ke lembah putus asa. Hidupku sempat bagaikan daun kering, melayang-layang tanpa tujuan, hampa. Sampai suatu saat aku terbangun kembali, menemukan anakku sakit keras.
“Anakku, maafkan Mama, Nak,” ratapku penuh penyesalan. “Duhai, buah hatiku, maafkan Mama yang sudah lalai,” kuciumi wajah mungil berusia belasan  bulan.
Ia mengalami demam tinggi berhari-hari tanpa ada yang mengobati selain dikompres dan diobati alakadarnya.
Sekali itu Tuhan menuntun diriku agar sadar kembali, tidak jauh-jauh, melalui ketakberdayaan anakku sendiri. Di rumah tak ada orang tua, adik-adik tak berdaya. Tinggal nenekku yang telah tua dan sakit-sakitan, dan diriku yang masih langlang lingling bagaikan perempuan sinting.
Kujual cincin kawin yang masih kumiliki, dengan itulah kubawa anakku ke dokter spesialis anak. Pulang dari dokter, sambil dipayungi oleh Ed, adik laki-laki kelas satu SMA, aku menyatakan sumpah dalam hati.
“Demi Allah, langit dan bumi akan menjadi saksiku, sejak saat ini hanya akan kufokuskan hidupku demi anakku, ibadahku dan hidup di jalan kebenaran, sesuai syariat yang diajarkan Nabiku Muhammad Saw.”
Sejak saat itulah, kubenahi langkah-langkahku, kutata hidupku berdua anakku. Kami menempati pavilyun yang pernah kubangun sebelum menikah. Namun, tak jarang apabila ada adikku, En, suaminya beserta anak berkunjung, kami berdua akan mengalah menempati setelempap sudut di loteng, berkawan cecurut, tikus dan kecoa yang berseliweran.
Aku menerima segala kondisi yang harus kujalani, sebab ini kesalahanku sendiri, sebagaimana kerap disindirkan ayahku terhadapku. Menyandang status janda sungguh tak mengenakkan bagi perempuan mana pun.  Tak terkecuali diriku, dengan segala ketakberdayaan; penyakitan, sama sekali tidak rupawan dan menawan secara lahiriah.
Anehnya, hari-hariku sempat diwarnai kecurigaan, kecemburuan di antara para perempuan tetangga di kampungku. Mereka mungkin merasa heran dengan kondisiku yang sepintas kilas tampak tenang-tenang saja, berbahagia berdua anakku. 
Aku memang mulai menangguk laba, sebab ada banyak kucuran honor dari dunia kepenulisan. Emas dan berlian mulai menghiasi pergelangan tangan, jari-jemari dan leherku. Mereka tidak pernah tahu bagaimana aku meraih semuanya itu. Bermalam-malam begadang, mengetik, menulis, menulis dan menulis hingga jari-jemariku kebas.
Inilah kondisi yang sangat traumatis dalam sejarah hidupku. Ungu hariku jingga hatiku, mungkin demikianlah judul yang tepat kupilihkan untuk episode hidupku ini.
Suatu hari, ada seorang ibu paro baya sekonyong-konyong mendatangiku, dan memaki-maki diriku tanpa sebab. Setelah usut punya usut ternyata dia salah orang. Tujuannya adalah salah seorang famili yang juga memiliki nama sama, (Etty) dan telah menggoda suaminya.
“Saya Pipiet Senja bukan Etty, Bu,” kataku menahan kemarahan yang nyaris meledak di ubun-ubunku. “Aku memang janda, tapi juga seorang penulis, yakinkan hal itu!”
Bagaimana tidak, dia memaki-maki di depan orang banyak, di tengah pasar tanpa ba-bi-bu lagi. Lusinan nama hewan di kebon binatang, dan semua sebutan beraroma kejalangan dimuntahkan dari mulutnya, ditujukan kepada diriku.
Sungguh perbuatan yang tak termaafkan!
“Mama… angis ya, angis… ngapa Ma? Acit yah, Ma, aciiitnya mana cih?” Haekal, usianya saat itu dua tahun, baru belajar bicara, memandangi wajahku yang niscaya pucat bagaikan mayat.
Aku menunduk, memandangi wajahnya yang fotokopian bapaknya. Seketika aku merasai lagi kepedihan, perasaan terhina, ketakberdayaan, semuanya itu nyaris menguasai diriku.
“Tidak, tidak, jangan pernah menyerah kembali!” jeritku segera mengusir setan pelemah iman.
“Ngapa Mama diem… Mama ga awab Etan ciiih?” gugatnya sambil mengguncang-guncang tanganku, digenggam erat-erat oleh tangannya yang mungil.
Sementara aku belum sempat belanja, jadi kutuntun anakku menyingkir dari tempat yang mendadak bagaikan disaput lautan neraka itu.
“Mama gak sakit, sehat-sehat saja, Nak, lihat nih! Ayo, semuanya, segala setan belau, jin Tomang, siapa takut?!” Aku mengacungkan kedua tinjuku, sehingga mengepal di atas kepalanya.
Seketika dia terkekeh-kekeh menggemaskan. Haekal memang tumbuh dengan sangat baik, jarang sakit dan kecerdasannya sudah terlihat sejak kecil.  Sejak dalam kandungan aku sering mengajaknya bicara, tak peduli dianggap sinting sekalipun. Begitu dia lahir tiap saat pun kuajak bicara. Seakan-akan dia bukan makhluk tak berdaya, aku mendudukkannya sebagai seorang teman, sahabat yang bisa kuajak curah hati.
Mungkin karena itulah Haekal lebih mudah memahami perkataan orang dewasa. Pada usia sebelia itu, perbendaharaan katanya sungguh menakjubkan. Banyak orang terheran-heran dengan gaya bicaranya yang lugas, bernas dan cerdas.
“Ini dia anak ambing… nah, atunya agi embu ambing… Mmm, atunya agi sapa, Ma?” tanyanya suatu pagi, ketika kami berjalan menyusuri kebon, sawah dan melintasi sebuah kandang kambing.
Memang ada tiga ekor kambing di dalam kandang itu. Agaknya dia mencermatinya dan ingin menarik kesimpulan sendiri. Langkahku yang sudah agak menjauh, seketika terhenti, kembali berbalik ke arahnya dan menyahut; “Oh, itu bapak kambinglah, Nak…”
Kami kembali melanjutkan langkah, kulihat anakku masih tertegun-tegun, sesekali pandangannya diarahkan lagi ke kandang kambing. Sedangkan jari-jemarinya seperti tengah menghitung-hitung, lalu tiba-tiba dia menunjuk ke arahku, menepuk dadanya, dan menepuk keningnya keras-keras sambil berseru lantang.
“Maaaa! Ambing ada embu, ada bapak… Etan (dia menyebut dirinya demikian) mana bapaknya, Ma?”
“Oooh, bapak Haekal lagi cari kerja di Jakarta, ya Nak,” sahutku sejurus tercengang-cengang, tak pernah menduga akan mendapatkan pertanyaan demikian secepat itu.
“Ohhh… ada bapak Etan, ya Ma, ada…”
“Iya…” Aku masih tergagap bahna terkejut. “Terus, mau nanya apalagi, Nak?”
Sementara dadaku terasa berdebar keras sekali. Bukankah ini belum saatnya?
“Mm, ya dah… ayan agi Ma, ayoooo!” ajaknya sambil menyambar tanganku, seolah-olah telah puas dengan jawaban yang telah lama dicari-cari oleh otaknya yang mungil.
Ya Allah, ada yang runtuh jauh di dalam hatiku. Tak bisa kubayangkan, entah apalagi yang ingin dipertanyakannya kelak, tentang dirinya, tentang bapaknya, tentang keluarganya dari pihak bapaknya. Namun, kemudian kulihat anak itu sudah berlari-lari riang dan penuh sukacita, menyusuri pesawahan. Sebuah lahan favorit kami berdua yang hampir tiap pagi kami susuri, selama beberapa tahun kemudian.
Beberapa waktu kemudian, entah siapa yang mengajarinya, mungkin dia mengingat sekali pernyataan sadis, atau mungkin pula hanya keisengan belaka. Yang jelas, apabila ada yang menanyakan perihal bapaknya, maka demikianlah jawabannya; “Oh, bapak Etan… Ati abak ebek!”1
Binatang yang paling ditakutinya adalah unggas, terutama bebek dan ayam. Suatu kali ada seekor ayam jago menyambar kerupuk, makanan kesukaannya, yang tengah dipegangnya. Anakku berhasil mempertahankan kerupuknya, tapi jidatnya tepat dipatok si jago. Sejak itu dia selalu berusaha menghindari hewan yang bernama ayam, bebek, burung dan angsa.

Sambung


1 Mati ketabrak bebek

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama