Keramahan Warga Taiwan Patut Diacungi Jempol






Keramahan Warga Taiwan Patut Diacungi Jempol
Pipiet Senja

Taipei, 9 Maret 2016
Diundang oleh komunitas perpustakaan Taiwan, Brilliant Time yang didirikan oleh Mr. Chang Cheng, saya tiba 9 Maret 2016, bersama rekan Sunlie Thomas Alexander dikawal langsung oleh Sima Kuan Tung Wu, pengelola perpustakaan yang terletak di kawasan Nanshijiao.

Pesawat mendarat di Bandara Taipei Taoyan Internasional, sekitar pukul tujuh malam, disambut hujan deras dengan suhu 10 derajat Celsius. Demikian menurut seorang sahabat melalui WA yang berpesan, agar saya hati-hati jaga kesehatan. Intinya dia mengkhawatirkan kondisi kesehatan saya. Terima kasih.

Sebelumnya saya sudah tiga kali singgah di Taiwan. Pertama bersama rombongan Bilik Sastra Voice Of Indonesia Republik Indonesia dipimpin langsung oleh Kabul Budiono, 2012. Direktur Penyiaran Siaran Luar Negeri VOI RRI. Kedua diundang teman-teman Forum Lingkar Pena, 2013, bersama Sastri Bakry dan Fanny Jonathan Poyk. Ketiga kalinya hanya singgah beberapa jam transit, saya lupa hendak ke mana itu, kalau tak salah ke Hongkong.

Hari pertama saya dan rekan Sunlie Thomas Alexander yang juga penyair Mualaf dari Bangka Belitung, diajak ke perpustakaan Briliant Time oleh Sima Kaun Tung WU, anak muda keturunanTaiwan ayahnya tinggal di Pademangan. Saya terpukau dengan koleksi buku yang ada di perpustakaan Brillliant Time. Ada lima jenis buku di sini, bahasa Thailand, Filipina, India, Vietnam dan Indonesia. Unik sekali!

Dari siang hingga petang kami berkelindan dengan buku, ada beberaa relawan muda sedang asyik mengerjakan sesuatu. Mahasiswi dari Vietnam dan Taiwan. Saya mencoba mencermati koleksi bukunya. Meskipun tidak paham, tetap saja membuatku berdecak kagum, banyaaak!

Kami mencari makan malam sebelum pulang ke apartemen yang disediakan oleh Sima. Hujan turun sejak pagi, udara dingin sekali suhu sekitar 10-13 derajat Celsius. Kata orang Sunda mah, aduh tirisna meuni ngahodhod, mucicid!

Ada warung makan Muslim yang menyediakan berbagai menu halal. Saya dibuat kagum dengan seorang anak laki-laki, kata Sima, dia anak tetangga pemiik warung. Anak laki-laki ganteng ini fasih membaca doa dan ternyata hafal beberapa juz Al Quran. Subhanallah!

Hari kedua, diajak ke Masjid Taipei oleh Sima. Jumpa dengan Dila, mahasiswi Minang berasal dari Tanah Datar yang sedang ambil program Master. Ardila, anak daro manis ini fasih bahasa Inggris. Kami langsung akrab, setelah ikut sholat Jumatan, kami pergi ke toko Indonesa, makan siang yang; gak bangeeeet, harganya mahal sekali!

Jumpa dengan Dina, dara Yogya yang sedang ambil program Doktoral. Ia sebaya menantuku, Seli. Kami jadi asyik diskusi, dia tertarik sekali mengadakan kelas menulis di kampusnya. Sepertinya merasa panas juga, teman-teman BMI sudah banyak yang menjadi penulis dan melahirkan karya. Anak PPI, mahasiswa perantau juga jangan kalah!

Maka, kami pun berbicnang serius untuk memungkinan mengadakan seminar kepenulisan di kampusnya. Syukur-syukur bisa nonton bareng film Kalam-Kalam Langit. Yang ini harus dicarikan sponsornya, semoga ada yang berkenan menjadi sponsornya. Karena ingin mendatangkan setidaknya dua bintang filmnya dan tim Produser.



Dila nak Tanah Datar, asli Minang program Master


Karena Sunlie dan Sima pergi ke tempat lain, saya diantar pulang oleh Dila kembali ke apartemen setelah gabung dengan PPI di KDEI. Perjalanan panjang yang dingin sekali ditambah nyasar, oalaaaaa!

Menurut peta hanya sekitar tiga menit dari halte bis di kawasan Nanshijiau itu. Karena nyasar dan mulai gelap, nyasar dulu ke mana-mana di bawah guyuran hujan. Saya meencermati, beberapa orang yang ditanya oleh Dila, selalu dengan sangat peduli dan ramah memberi penjelasan.

Coba kalau di Jakarta cukup menjawab; “Auk, ya!” Malah banyak juga jadi ditipu, disesatkan bahkan dicelakai.

Rombongan pelajar dengan serius mencarikan alamat apartemen Sima, mulai dari mencari di google peta, sampai sebagian ada yang berjalan ke sana ke mari menanyai orang juga. Alhasil, meskipun udara semakin dingin dan mulai membuat tubuhku menggigil, tapi terlupakan, saking takjub dengan keramahan anak-anak muda Taiwan itu!

Akhirnya sampilah kami di lokasi, disambut wajah cemas Sima. Dila hanya beberapa menit saja tinggal, langsung pamitan pulang ke apartemennya, hanya satu kali naik bis, katanya tangguh sekali. Kupikir mau inap di kamarku, pasti akan kuteror habis agar dia menjadi seorang penulis. Hehe.


Baiklah, sampai jumpa laporan berikutnya, ya Sahabat.
Spesial untuk anak-anak muda itu, terima kasih, Taiwan, Xie Xie!
Taipei, Pipiet Senja, penulis Indonesia.


Vivian, Founder Brilliant Time, Miss Chang Cheng

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama