Poligami Itu Menyakitkan, Jenderal!







Cerpen Karya Pipiet Senja

Ayuningtias sedang asyik memberi sentuhan terakhir pada tuksedo suaminya ketika lelaki itu masuk kamar. Begitu asyik dan seriusnya perempuan itu, hingga keberadaan sang suami di kamarnya seolah sama sekali tak memengaruhinya.
Perilaku dan tindakan Ayuningtias dalam beberapa bulan terakhir sungguh serba mengejutkan. Siapapun mengakui hal itu, termasuk Danang yang tiba-tiba merasa sangat dimanjakan dan diuntungkan tentu saja.

Di kantor Danang, semua anak buahnya terutama para karyawati menyatakan respek dan kagum terhadap Ayuningtias. Bahwa Ayuningtias adalah seorang ibu rumah tangga yang sempurna, itu sudah lama menjadi rahasia umum. Bahwa Ayuningtias seorang ibu yang berhasil, itu juga diakui banyak orang bahkan oleh sebuah majalah wanita yang memilihnya sebagai “Ibu Teladan”. Di bisnis kateringnya pun Ayuningtias termasuk pebisnis yang sukses.

Namun, apabila Ayuningtias tiba-tiba menyerah kalah kepada Shanti, mantan mahasiswi suaminya yang asal-usulnya diragukan itu… Sungguh tak masuk akal!

“Mam, asyik amat sih…?” Danang tak tahan lagi diabaikan begitu saja, padahal hampir sepuluh menit dirinya berdiri beberapa langkah dari istrinya.

Perempuan itu menengadah sesaat, tapi tangannya tak melepaskan bunga anggrek putih yang ingin disematkan di saku tuksedo itu. Danang menatap lekat-lekat wajah istrinya. Apa yang bisa terkesan dari wajah oval yang selalu berseri-seri itu? Di sana hanya tersirat pengabdian tulus yang senantiasa dipersembahkannya kepada suami, anak-anak dan keluarga besarnya. Itulah sosok perempuan bernama Ayuningtias.

Dia memang seorang perempuan yang sempurna!
“Sebentar… mmm, begini lebih bagus kan? Tapi rasanya masih…”
“Sudahlah, lupakan semuanya itu!” suara Danang tiba-tiba terdengar tinggi.

Namun segera ia menyesalinya, mengapa dirinya harus merasa jengkel kepadanya? Hanya karena dia sangat memperhatikan kepentingannya, mendukung segala keinginan dan hasratnya untuk menikah lagi?
Kali ini Ayuningtias melepaskan seluruh kegiatannya. Ia menatap balik wajah suaminya, seleret senyum nan manis menghias bibirnya yang tanpa polesan.

“Apa ada yang salah, Mas?” tanyanya lembut, sarat permohonan maaf dan ampunan.
Aduuuh… senyum dan sikap Ayuningtias begini mengingatkan Danang pada saat-saat pengantinan mereka dulu. Perilaku yang selalu menggugurkan hati Danang, hingga apapun kesalahan yang pernah diperbuat Ayuningtias selalu dimaafkan dan dimaklumi. Namun, bersamaan dengan berjalannya waktu,   rutinitas dan seribu aktivitas mereka… tiba-tiba segalanya telah berubah!

Yang lembut dan manis sering berubah menjadi tawar dan dingin, kadang bersepuh luka. Tapi mereka berdua telah semakin matang menghadapi samudera kehidupan. Ditambah tiga buah hati yang tiap tahun memberi mereka kebanggaan, bertabur prestasi.

Ketiganya tengah melanjutkan pendidikan di mancanegara. Salman di Al-Azhar, Kairo. Fariz di Sorbone, Perancis. Si bungsu Ayyesha di University of Tokyo, Jepang. Ketiganya mendapatkab bea-siswa, dan itu semua berkat semangat dan dorongan dari sang bunda tercinta. Sebab Danang lebih banyak disibukkan dengan kariernya, hampir tak punya waktu untuk menemani anak-anak.

Sebaliknya Ayuningtias, meskipun sama berjuang mem-back-up karier sang suami, bahkan dengan seribu satu aktivitasnya, toh ia selalu meluangkan waktunya bersama anak-anak. Itulah bedanya antara dirinya dengan istrinya.
Kini Danang mengeluh dalam hati, ke mana Ayuningtias yang mantan aktivis LSM anti kemiskinan kota itu? Ayuningtias yang suka mengompori para istri di PKK kantornya, agar mereka mampu mandiri dan jangan mau dilecehkan oleh suami?

Ayuningtias yang pernah bersafari ke pelosok negeri bersama partai perempuannya, mengkampanyekan menentang pencabutan PP 10 bagi pegawai negeri sipil. Yang notabene menentang poligami itu?
“Mas, ada apa sih?” Ayuningtias menghampirinya dan menyentuh tangannya sekilas.
“Eeeh, nggak… cuma aku bingung saja,” gagap Danang tak mampu membalas sorot mata istrinya yang bening dan tulus.

“Wajar sajalah. Namanya juga mau jadi nganten,” tanggap perempuan berumur 50-an itu terdengar manis. “Sabar dong, Mas, tinggal beberapa jam lagi,” lanjutnya pula sambil lalu.
“Kau menyindirku!” tuding Danang, tapi perempuan itu telah melenggang dengan langkah-langkah anggun keluar kamar.

Tanpa berkomentar apapun lagi. Ujung gamis dan jilbabnya melambai manis, meninggalkan kesan mulia di mata suaminya.

Sekilas Danang mengitarkan pandangannya ke kamar besar itu. Ranjang perkawinan itu telah bercokol di sana hampir tiga puluh tahun. Inilah sarang cinta kasih mereka berdua. Di sinilah ketiga buah cinta direnda, dicita dan didambakan, pikir Danang mendadak melankolis.
***

“Maaas… sini sebentaar!” suara itu mengapungkan segala bimbang dan melankolisme yang menyergap hati Danang. Suara yang tegas, mengandung titah yang tak boleh dibangkang. Danang sudah paham benar akan hal itu.
“Ya, Yayaaang…!” Danang tergopoh-gopoh menghampiri istrinya di ruang keluarga. Apalagi sekarang, tanyanya di hati.

Dia sudah seperti seorang bocah yang harus selalu manut kepada perintah sang ibu. Sebab kalau tidak, dia takkan pernah mendapatkan apa yang diinginkannya.
“Menurut Mas mana yang lebih indah dari dua vas kembang kita ini?”

Perempuan itu mengacungkan dua vas kembang keramik yang memang sangat indah. Untuk urusan perabotan dan penataan rumah pun, dialah pakarnya!
“Dua-duanya sama indah dan mahal. Itu kan buah tangan kita saat keliling Eropa dulu. Kau membelinya di sebuah toko suvenir di Belgia…” kenang Danang, tapi belum paham juga makna kelakuan istrinya. Apa coba hubungan keputusan

Ayuningtias untuk menerima suaminya menikah lagi dengan vas kembang di tangannya itu?
Senyum di bibir itu kembali merekah segar dan sumringah.
“Tentu saja ini ada hubungannya,” ujarnya bak bisa menerobos jalan pikiran suaminya. “Tadinya hanya satu yang akan kuberikan untuk Dik Shanti. Tapi karena jawaban Mas seperti tadi itu… yah, sudahlah!” ia mengangkat bahu-bahunya dengan gerakan indah, sengaja menggantung kalimat.

“Bagaimana?” Danang ingin tahu kelanjutannya.
“Dik Shanti itu memang selalu beruntung. Dia akan mendapatkan kedua vas kesayanganku ini. Dua-duanya, nanti akan kukemas di kotak yang sama indahnya,” sahutnya tedengar biasa saja.

Danang merasa tak tahan lagi. Mengapa sama sekali tak bisa ditebak jalan pikiran istrinya? Apalagi untuk menguak isi hatinya. Ayuningtias kini sungguh telah berubah menjadi misteri. Dia terlalu lembut, terlalu anggun, terlalu tulus dan terlalu mulia. Dia sama sekali bukan Ayuningtias yang dikenalnya selama ini. Dan itu membuat hati Danang kebat-kebit, was-was sekali.

“Sudahlah, pergi sana, Mas… Dia tentu sudah menunggu Mas untuk… entahlah!” Sungguh, tak ada nada menyindir apalagi jengkel atau marah. Diucapkan dengan datar dan wajar saja, setidaknya begitu menurut pendengaran Danang.
“Sungguh… kau tidak apa-apa, Yang?”
“Ya, lihat saja sendiri, Mas. Aku sehat-sehat saja kan? Sudahlah…”
“Ah, Mam…”

Betapa Danang ingin sekali merengkuh bahu istrinya, membenamkan kepalanya dalam pelukannya. Mencari kekuatan yang dulu biasa didapatkannya di situ, manakala dirinya tersandung masalah dalam perjalanan meniti kariernya. Ayuningtias adalah pelabuhan segala dukalara dalam separuh hidupnya.

Tapi kini tidak, ia takkan mendapatkannya. Sebab Ayuningtias dengan halus menolaknya, menyuruhnya segera pergi. Apalagi di luar sudah terdengar klakson mobil. Tentu saja asisten pribadinya, Dimas. Mereka sudah punya acara sendiri di klub.
“Dik Dimas sudah jemput. Berangkatlah, Mas…”
***

Danang merasakan dirinya bak Arjuna yang akan bersanding dengan Srikandi dan Dewi Sumbadra. Apalagi rekan-rekan di klubnya heboh menyambut kemenangannya itu. Mereka merayakannya dengan sampanye, denting gelas diadukan, toast, toast…
“Kamu ini lelaki yang sangat beruntung, Dik Danang,” ujar atasannya, Prambodo.“Sudah punya seorang Ayuningtias yang luar biasa itu, sekarang ditambah dengan sosok Shanty…”
“Yang sensual, muda dan super enerjik!” tukas Dimas tertawa yang disambut oleh derai tawa lainnya. Wajah Danang tersipu-sipu, dalam hati tentu saja sangat bangga akan dirinya.

“Kudengar, kalian pertama kali bertemu di Pulo Bidadari, acara diving begitu?” selidik atasannya, Pak Pram.
“Yaah…” Danang berlagak angkat bahu.
“Tapi katamu, dia itu mantan mahasiswimu? Gimana toh, cerita aslinya Dik Danang?” Pak Pram terus mencecarnya.
“Yang aslinya sih…” Danang mulai jemu dengan keharusan untuk menjelaskan asal-usul calon istri mudanya itu.

Sesungguhnya tak ada yang istimewa dari sosok Shanti. Bahkan sangat sarat dengan aib dan memalukan. Kelebihannya dia adalah wanita muda yang memiliki daya pikat luar biasa. Dalam acara diving bareng rekan-rekannya di Pulo Bidadari itu, Danang segera mengenalinya sebagai mantan mahasiswinya.

Acara malam Mingguan itu sangat unik, spesial diselenggarakan oleh cukong Tionghoa untuk menyenangkan para pejabat tinggi seperti dirinya. Seks diving, begitu istilah sang cukong. Mereka rame-rame menyelam untuk memperebutkan si Bintang Kejora. Yang paling tahan menyelam dan terampil berenang, serta berhasil menangkap si Bintang Kejora, maka dialah pemenangnya.

“Dan jadilah Dik Danang pemenangnya sejak malam itu sampai sekarang, ya, hahaha…” Pak Prambodo terkekeh-kekeh sambil menepuk-nepuk bahu Danang. “Sing awas lho, jangan-jangan kalo sudah menjadi istri yang sah…”
“Dia malah bosan sama Mas Danang, iya Pak Pram?” tukas Dimas.
“Namanya juga mantan penyelam, hehehe…” ledek atasannya pula.

Wajah Danang seketika memerah padam. Tapi dengan segala percaya dirinya, ia berkata diplomatis, “Kita lihat saja nanti, Saudara-saudara…”

Berita tentang selingkuhannya kala itu dalam sekejap telah menyebar ke mana-mana. Tentu saja segera sampai pula ke kuping istrinya. Namun, anehnya perempuan itu sama sekali tidak memperlihatkan angkara. Tak seperti istri-istri rekannya yang mengalami hal serupa.

“Menikahlah secara resmi dengannya, Mas. Aku tak mau terbawa-bawa dosa. Karena sudah membiarkan kalian melakukan itu…”

Ya, kalimat mulia itulah yang terucap dari mulut Ayuningtias. Yang kini menerbangkannya dalam posisi bak sosok Arjuna. Inilah anugerah terindah yang didambakan setiap lelaki, pikir Danang. Manakala dirinya berhasrat menduakan hati, bahkan didukung sepenuhnya oleh sang istri.
***

Ayuningtias segera larut dalam kesibukannya yang unik. Menyiapkan segala sesuatunya untuk pernikahan sang suami. Mulai dari mengurus surat perizinan untuk menikah lagi bagi suaminya, melakukan lobi dengan para karyawati yang menentang sampai memberi pengertian kepada ketiga anaknya.

“Anak-anak memang sempat menentang, terutama Ayessha,” lapornya suatu kali. “Tapi sekarang mereka sudah menyerahkan segalanya kepada kita.”
“Kepadamu, bukan kita,” pintas Danang meralatnya.

Tapi Ayuningtias tetap rendah hati, semuanya mengatasnamakan kita bukan diriku atau dirimu. Luar biasa!
Danang kadang merasa amat iba melihat kesibukannya yang membuta itu. Ia juga merasa bersalah telah menyebabkan istrinya harus sibuk dan… Hei, apakah istrinya merasa akan kehilangan dirinya?

“Tidak, bagiku Mas akan tetap seperti dulu. Bukankah begitu?”
“Tentu, Mas kan sudah janji nggak akan pernah mengabaikan dirimu. Semuanya akan berlangsung dengan adil dan damai, hehehe…”
“Amiiin!” sambung istrinya terdengar serius dan itu cukup untuk  menghentikan kekehannya dalam sekejap.
***

Akhirnya tibalah hari “H” yang sangat didamba oleh Danang itu. Ayuningtias telah mengatur agar akad nikah itu diselenggarakan di KUA dekat kantor suaminya. Jadi, ada cukup banyak rekan Danang yang bisa menghadirinya. Pada kenyataannya berita pernikahan itu telah menyebar luas. Termasuk ke nyamuk pers, media elektronik yang pernah memberitakan tentang sosok Ayuningtias sebagai “Ibu Teladan” dulu.

Rencananya takkan ada resepsi pernikahan. Itu satu-satunya permintaan dan syarat yang diajukan oleh Ayuningtias. Dan telah disepakati oleh Danang beserta mempelai wanita.
“Biarlah, kami akan merayakannya secara khusus di Pulo Bidadari. Bukankah begitu, Dik Shanti?” kata Danang yang cepat diiyakan oleh Shanti.

Danang kian buncah dalam sosok Arjuna Wiwaha. Berhasil membuat si Bintang Kejora bertekuk lutut di kakinya. Dan berhasil pula menundukkan kekerasan hati sang istri yang dulu terkenal anti poligami itu.

Diam-diam mata Danang sering mencuri pandang ke arah Ayuningtias. Perempuan itu tampak begitu anggun dalam busana Muslimahnya  yang serba putih. Sosoknya dalam sekejap telah menjadi Mega Bintang, disorot kamera para wartawan, dikejar-kejar permohonan wawancara eklusif media cetak dan elektronik.

Tiba-tiba pamor si Bintang Kejora telah terbanting, tak ada nilainya sama sekali di mata siapapun. Bahkan hati Danang semakin risau manakala menyadari mempelai wanita, yang baru diperistrinya tampak amat rikuh dan… norak! Shanti mengenakan busana pengantin yang sangat vulgar, hingga memamerkan sepertiga auratnya ke mana-mana.

Anehnya, mengapa nyamuk pers justru lebih suka menyorot sang istri tua? Yang duduk dengan anggun, sesekali melempar seleret senyum nan tulus bak senyum peri cantik.

Telanjur, akad nikah baru saja dilaksanakan!
“Pssst… itu maskaramu meleleh!” bisiknya jengkel sekali memelototi Shanti yangcengengesan terus, entah apa makna kelakuannya itu. Yang jelas itu telah membuat Danang semakin marah dan jengkel saja.
“Oom kayak kakek-kakek kalah sebelum laga!” balas Shanti galak.

Karuan Danang semakin geram. Ini masih di kawasan KUA, bahkan Tuan Kadi pun baru beranjak beberapa langkah dari ruangan itu. Seketika ia teringat akan segala kenangan indah yang pernah dilalui bersama Ayuningtias. Semuanya itu adalah sejarah masa silam, masa kini…

Masihkah akan menjadi sejarahnya lagi di masa mendatang?
“Kamu berangkat duluan, ya, please…?” pinta Danang.
“Terserah Oom aja!” sahut Shanti tak peduli. “Mending juga pulang sendirian daripada dicuekin mulu…” sungutnya merepet tak jelas, bergegas meninggalkan lelaki sebaya ayahnya yang baru disahkan menjadi suaminya itu.

Sebuah BMW telah menantinya di tempat parkir, itu sudah lebih dari cukup untuk seorang istri muda.
***

Di tengah kerumunan nyamuk pers itulah, Danang berhasil menggandeng kembali istrinya. Kemudian bergegas mereka meninggalkan pelataran KUA, masih di bawah sorot kamera dan decak kagum para istri kenalan Ayuningtias.
“Kenapa Mas biarkan dia pulang sendirian? Itu kan nggak baik,” cetus Ayuningtias di dalam kendaraan.
Nggak sendirian kok. Ada Mamih dan adik-adiknya, mungkin juga para penggemarnya,” jawab Danang dingin.
“Hmmm… jadi Mas masih mau mengantarku,” gumam Ayuningtias, sementara sepasang matanya menatap ke jalanan di depan mereka.

Ia selalu mengemudikan mobilnya sendiri. Tak pernah ada istilah sopir pribadi. Tak seperti yang satunya itu, gumam Danang, ke mana-mana minta diantar sopir. Sama sekali tak mandiri dan… Hei, mengapa baru sekarang disadarinya begitu banyak kelemahan Shanti?

“Kamu semakin anggun dan cantik saja, Ayu,” cetus Danang tiba-tiba.
Namun, Ayuningtias sama sekali tak menanggapinya. Ia terdiam membisu, menundukkan wajahnya dalam-dalam dan… tertidur!

“Bangun, Mam, sudah sampai,” Danang mengguyahkan bahu perempuan itu dengan kasih yang dalam. Ayuningtias tersentak bangun dan bergegas turun dari kendaraan, tanpa menunggu siapapun membukakan pintu untuknya.

Danang tergopoh-gopoh mengejarnya. “Tunggu dong, Yang!” serunya. Ayuningtias tak bereaksi, kecuali melenggang terus menuju beranda.

Perasaan Danang persis seperti saat-saat mereka bulan madu dulu. Kalau pun ada yang berbeda itu hanyalah soal lahiriah yang bersifat materi, duniawi. Dulu tentu saja mereka hanyalah pasangan muda yang tak punya apa-apa selain tekad, semangat dan cinta. Greget seperti ini, kesah Danang di hati. Mengapa baru ditemukannya kembali sekarang?

Andai saja kemarin-kemarin, niscaya dia takkan pernah berpaling ke wanita lain.
“Terima kasih sudah mengantarku, ya Mas…” Ayuningtias telah membuka kunci rumah, berbalik menghadapinya dengan senyum lembut.

Cahaya mentari senja jatuh di atas sosok istrinya. Bayangan istrinya di mata Danang seketika sangat sempurna sebagai sosok peri cantik. Yang menggetarkan jantungnya, menggoncangkan rasa kelelakiannya. Sehingga menimbulkan hasratnya, nafsunya untuk… bercinta!

“Biarkan aku masuk sebentar, please…” sepasang mata Danang berbinar-binar penuh hasrat.
“Tidak bisa, Mas,” tukas Ayuningtias terdengar tegas sekali. “Mas sudah ditunggu yang di sana. Itu haknya dan kewajiban Mas untuk memenuhinya…”

Danang meraih tangan perempuan itu, tapi hanya menyapu angin. Ayuningtias mengelak dengan gerakan indah dan cekatan sekali.

“Tapi… kenapa, Sayang?” suara Danang parau. Kepalanya mulai berdenyar-denyar, tak tahan membendung hasrat.
“Dengar, ya Mas,” suara Ayuningtias terdengar formal dan serius sekali. “Aku sudah melaksanakan kewajiban, menikahkan Mas dengan perempuan itu. Sekarang biarkan aku menjalani apa yang sudah kuputuskan…”

Danang mengerutkan alisnya. “Tolong diperjelas bicaranya, Sayang…”
“Bukan dari mulutku, tapi tunggulah sampai besok. Dia akan datang kepadamu, Mas…”
“Dia… siapa?” Danang semakin bingung. “Apa kau punya lelaki lain?”

“Bukan, dia hanya pengacaraku,” senyum itu kini tampak berubah sinis dan kejam. Hingga jantung Danang serasa tertohok pukaunya.
“Pengacaramu… mau apa?”
“Mengajukan gugat cerai dariku tentu saja…”

Blaaar!
Danang seketika merasakan ada petir menghajar kepalanya yang kian berdenyaran. Jadi, inikah misteri yang tersimpan di balik segala sikap dan tindakan istrinya beberapa bulan terakhir? Sosok Arjuna Wiwaha telah lenyap dari dirinya, kini disilih sosok Astrajingga yang ditolak mentah-mentah.

“Tunggu, jangan ditutup… kita bisa bicara lagi kan…?” Tapi bayangan perempuan itu telah tenggelam di balik pintu. Sementara Danang semakin merasakan denyar-denyar di kepalanya kian menyiksa. Mungkin tensinya yang belakangan tak pernah stabil itu melonjak, stroke

Di balik gorden indah, Ayuningtias bisa melihat bagaimana tubuh tinggi besar itu tiba-tiba melorot dan ambruk di teras. Namun, ia sama sekali  bergeming dari tempatnya berpijak. Bahkan meskipun gerimis mulai renyai membasahi terasnya, menimpa onggokan daging tak berdaya itu, ia tetap  bergeming. Samar seleret senyum dingin menghiasi bibirnya yang segar tanpa polesan. (Depok, Zulhijjah 1423 Hijriyah)

2 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama