Bagaimana Aku Bertahan: Lakon Kita, Aneh-Nyeleneh








Malam Yang Ajaib

Sebelum maghrib kami akhirnya memutuskan untuk menginap di hotel. Sebuah penginapan murahan di kawasan Tanah Abang. Belakangan aku baru tahu, penginapan ini biasa dimanfaatkan oleh para lelaki hidung belang dalam mencari kenikmatan sekejap, melampiaskan nafsu libidonya.
Konon tempat ini juga sering dipakai para bandar narkoba untuk melakukan transaksi ilegal mereka. Beberapa lelaki berkulit hitam tampak menghuni kamar di sebelah-menyebelah  kamar kami.
“Inilah yang bisa kita tempati untuk sementara. Kalau tak mau kebobolan uang kita, maka cepatlah kau mencari kontrakan,” berkata suamiku.
Aku hanya terdiam, mencermati suasana sekitar kami. Sebuah ruang empat kali empat dengan perabotan alakadarnya. Ada etalase kecil dengan cermin di ujung-ujungnya sudah semplek. Sebuah lemari kayu sudah kuno, sempat kubuka sebentar.
Aroma tak sedap, perpaduan bau kecoa dan cecurut langsung meruap menerpa lubang hidungku. Kontan kututup kembali pintu lemari yang juga sudah rapuh itu.
Kemudian sebuah tempat tidur ukuran sedang, dua bantal, seprei dan sarung bantal yang tampak telah pudar warnanya. Entah kuning entah putih, mungkin juga campuran keduanya. Tampak ada beberapa noda membekas di atas seprei itu. Bulu romaku dalam sekejap merinding!
“Kita ganti saja sepreinya, ya?” pintaku tak tahan, membayangkan kemungkinan sprei itu baru saja digunakan lelaki hidung belang dengan pasangannya, wanita penghibur yang kutahu mulai terlihat berseliweran di koridor depan kamar kami.
“Terserah kaulah itu,” sahutnya acuh tak acuh, melenggang ke kamar mandi, kemudian terdengar bunyi air gebyar-gebyur… Gustiii!
Sholat maghrib yang tertunda kutunaikan, dilanjutkan dengan sholat isya. Sementara tak sekali pun kulihat lelaki itu, suami pilihanku bermarga Siregar itu, mendirikan sholat. Hatiku mulai resah.
“Kenapa gak sholat, Yang?” aku menghampirinya yang lagi asyik baca koran.
Baru kutahu pula bahwa dia jarang sekali membaca buku bermutu. Ya, kecuali koran dan koran melulu. Itupun hanya koran Pos Kota dan Sinar Harapan, di mana beberapa karyanya kerap dimuat.
“Kau belum menjawab pertanyaanku,” kejarku penasaran.
“Aku merasa… tak bersucilah…”
“Bagaimana? Aku tak paham maksudmu. Apa selama ini tak pernah sholat?”
Dia tak menyahut, kembali melanjutkan baca koran. Tapi beberapa saat kemudian, tangannya meraih bahuku dan… terjadilah!
“Kita keluar dulu, cari makanan, ayo!” ajaknya sekitar pukul sepuluh.
“Hari begini apa masih ada yang jualan di luar?”
“Ini tempat kunampak memang tak pernah tidur. Lihat saja nanti!”
Aku pun mengikuti langkahnya dengan kepatuhan seorang istri. Menyusuri koridor, melewati kamar-kamar yang menimbulkan aura remang-remang pelacuran, kumuh, muram…. Hiburan murahan, musik dangdut, tawa dan cekikikan perempuan nakal… Ya Tuhan!
Segalanya mulai ajaib dan asing bagiku. Anehnya pula, aku tak mampu menghindari situasi yang tercipta begitu saja. Apalagi memberontak… bah!
Di kemudian hari, ternyata pengalaman ini memberiku inspirasi hebat untuk melahirkan sebuah novel (terbilang laris manis!) Tembang Lara, diterbitkan oleh Gema Insani Press, 2002.
Setelah makan malam yang telat di sebuah warung pinggir jalan, kami kembali ke penginapan. Suasana malam hotel murahan kawasan Tanah Abang, semakin terasa dan memamerkan segalanya yang berbau maksiat!
Aku hanya bisa menghela napas, mulai sesak kurasai dada ini. Kutahu, ini harus segera diobati, dan itu hanya satu obatnya; menulis!
“He, mau apa kau?” tanya suami ketika aku mulai memangku si Denok (ini nama kesayangan untuk mesin ketikku) kemudian membukanya dengan penuh rindu seorang penulis.
Beberapa hari (karena sibuk urusan perhelatan pernikahan) aku terpaksa meninggalkan benda yang sangat bermanfaat bagi terapi jiwaku ini.
“Menulis tentu saja, apa gak boleh?” kupandangi lekat-lekat matanya yang tajam. Dan kutahu mata itu sering kali mencermati segala gerak-gerikku dengan sorot ingin tahu yang luar biasa.
Seolah-olah diriku ini makhluk langka!
“Menulis ya boleh-boleh sajalah, tapi jangan sekarang. Ini kan malam-malam bulan madu kita…”
“Tapi aku harus menulis,” kali ini aku mencoba untuk membantah.
“Kenapa harus sekarang?”
“Kalau gak menulis, aku bisa sinting dan gak bakalan punya duit lagi!”
“Berani bantah, ya?”
“Apa gak boleh? Ini kan demi kebaikan kita juga. Aku gak mau bergantung kepadamu soal keuangan!”
Dia bangkit, garuk-garuk kepala. Aku menanti dengan jantung berdebar-debur.
Oya, rambutnya tebal dan tampak agak gondrong. Model rambutnya, sosoknya dan wajahnya mengingatkan orang kepada bintang film Advent Bangun. Miriiiiip!
Dagunya baru kucermati, agak terbelah, dihiasi sedikit cambang, tanpa kumis. Badannya tinggi kekar, tapi pinggangnya ramping, atletis. Pendeknya, secara keseluruhan penampilannya… memesona hati perempuan!
Aku menyadari betul ketampanan dan kegagahan fisiknya itu acapkali membuat diriku sangat minder. Beberapa kali, ketika kami berjalan berdua, para perempuan meliriknya dengan penuh hasrat dan nafsu.
“Menulisnya nanti saja, sekarang mendingan ke sinilah kau,” cetusnya sesaat kemudian. Kemudian lengan-lengannya yang kokoh menggapai tubuhku.
Dan dia, lelaki berasal dari Tapanuli Selatan, entah di mana letaknya itu… Kembali merayu, membuaiku, memesonaiku…  maka kun fayakun!
Malam yang ajaib. Sungguh, aku telah kehilangan kata-kata mendeskripsikannya. Sungguh, aku tak mampu melukiskannya dengan tinta apapun. Niscaya bahna anehnya dan sangat-sangat… ajaibnya!
Yang jelas, sejak malam-malam itu diriku telah berubah 180 derajat. Bukan lagi seorang gadis cuek, jutek, dingin dan terkesan apriori. Dan hanya memiliki sebuah sudut di kamarnya, dunianya…
Inilah diriku!
Seorang perempuan dewasa, istri yang patuh dan tengah beranjak untuk menjadi seorang ibu muda… beberapa bulan mendatang!

@@@



0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama